Catra Budaya

Kepergian Seniman Ngatiman di Atas Panggung, Simbol Menyatunya Pengabdian

catrawarta.com — Ngatiman adalah sosok seniman sejati. Pemain ketoprak asal Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini hidup dari panggung ke panggung. Bahkan,...

Ilustrasi: Salah satu adegan dalam pergelaran Festival Ketoprak di Yogya. (Dinas Kebudayaan DIY)

catrawarta.comNgatiman adalah sosok seniman sejati. Pemain ketoprak asal Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini hidup dari panggung ke panggung. Bahkan, tak menyangka kalau kemudian di akhir hidupnya, Ngatiman sedang melaksanakan suatu adegan di atas pentas, Selasa (24/3/2026) malam lalu, di Kajorkulon Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul.

Kepergian Ngatiman mengundang duka mendalam, bukan hanya bagi keluarganya, namun juga sesama seniman yang selama ini sering berkolaborasi dengan pemain ketoprak ini. Semula, adegan jatuh di atas panggung dalam suatu pergelaran untuk menghibur para pemudik itu, masuk dalam skenario sebuah lakon.

Namun, ternyata ketika ia jatuh, lama tak ada tanda-tanda bangun atau berdiri kembali. Pemain lainnya dan para penonton pun mulai bertanya-tanya hingga tersadar bahwa Ngatiman memang dalam keadaan koma dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

Kabar meninggalnya Ngatiman di atas panggung menghadirkan keheningan yang berbeda. Bukan sekadar duka, tetapi juga sebuah perenungan tentang dedikasi, kesetiaan dan makna pengabdian dalam dunia seni tradisi.

Berpulang Saat Menjalani Peran

Ngatiman tidak meninggal di ruang sunyi, bukan pula di tengah jeda kehidupan yang panjang. Ia berpulang saat menjalani peran di tempat yang selama ini menjadi ruang hidupnya. Panggung, yang bagi sebagian orang hanya sekadar arena pertunjukan, bagi seorang seniman seperti Ngatiman adalah rumah kedua, bahkan mungkin ruang paling jujur untuk mengekspresikan diri.

Peristiwa ini menyiratkan satu hal penting, bagi pelaku seni tradisi, berkesenian bukan sekadar profesi, melainkan laku hidup. Ketoprak bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan, ruang pengabdian yang dijalani dengan sepenuh hati, meski sering kali jauh dari gemerlap dan kesejahteraan yang layak.

Di sisi lain, kejadian ini juga mengingatkan kita pada kondisi para seniman tradisional yang kerap luput dari perhatian. Mereka tetap setia menjaga warisan budaya, meski dihadapkan pada keterbatasan, baik dari sisi ekonomi, kesehatan maupun regenerasi. Tidak sedikit yang terus berkarya hingga usia senja, tanpa jaminan perlindungan yang memadai.

Menyatu dengan Pengabdian

Kepergian Ngatiman di atas panggung menjadi simbol yang kuat tentang akhir yang menyatu dengan pengabdian. Ia seperti menutup kisah hidupnya dengan cara yang paling ia pahami melalui seni yang telah ia jalani sepanjang hayat.

Barangkali, ini bukan sekadar kisah duka. Ini adalah pengingat. Bahwa, di balik setiap pertunjukan tradisi, ada manusia-manusia yang mengabdikan hidupnya dengan sunyi. Dan sudah sepatutnya, mereka tidak hanya dikenang saat berpulang, tetapi juga dihargai selama mereka masih berkarya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *