catrawarta.com — Di lembah sepi semilir angin pegunungan nan sepi wilayah Kapanewonan Imogiri, sejarah tidak hanya tersimpan di naskah. Sejarah menjelma dalam bangunan. Masjid Banyusumurup berdiri sebagai saksi bisu pergolakan politik dan spiritual Jawa pada abad ke-17. Masjid tidak lahir secara tiba-tiba. Masjid tumbuh dari tragedi, kuasa, dan jejak kekuasaan Amangkurat I yang keras dalam mengonsolidasikan tahta pasca era Sultan Agung.
Sejarah mencatat, konflik internal Kerajaan Mataram mencapai puncaknya ketika Pangeran Pekik—bangsawan berpengaruh dari Surabaya—dieksekusi atas perintah Amangkurat I (Sunan Amangkurat Agung). Peristiwa ini tidak sekadar hukuman politik. Pangeran Pekik menjadi simbol penyingkiran kekuatan lama yang dianggap berpotensi mengganggu stabilitas kekuasaan baru. Setelah wafat, Pangeran Pekik bersama keluarga dan para pengikutnya dimakamkan di kawasan Banyusumurup.
Berangkat dari sinilah jejak sakral itu bermula. Kompleks makam kemudian dilengkapi dengan sebuah masjid. Masyarakat mengenalnya sebagai Masjid Banyusumurup. Tahun 1668 M sering disebut sebagai masa pendiriannya. Jika angka ini akurat, maka masjid tersebut berdiri tepat ketika Amangkurat I memegang kendali penuh atas Kerajaan Mataram Islam. Artinya, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga representasi kekuasaan yang menegaskan legitimasi spiritual di atas luka sejarah politik.
Secara arsitektural, Masjid Banyusumurup menampilkan corak khas masjid Jawa klasik. Bangunan utamanya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 9,40 meter × 9,40 meter. Atap tajug menaungi ruang inti, menegaskan orientasi vertikal manusia kepada Sang Ilahi. Bentuk ini tidak sekadar estetika. Bangunan memuat filosofi keseimbangan kosmos dalam tradisi Jawa-Islam.
Serambi masjid membentang di sisi timur dengan ukuran 9,95 meter × 4,60 meter. Tempat ini berfungsi sebagai ruang transisi—dari dunia luar menuju ruang sakral. Di sinilah interaksi sosial dan religius berlangsung. Di sisi selatan, pawestren hadir sebagai ruang khusus perempuan dengan ukuran 3,10 meter × 9,40 meter. Keberadaan pawestren menunjukkan bahwa tata ruang masjid telah mempertimbangkan aspek sosial-keagamaan secara matang sejak awal pendiriannya.
Halaman masjid seluas 22 meter × 20,60 meter menghampar sebagai ruang terbuka yang mengikat bangunan dengan lingkungan sekitar. Halaman ini bukan sekadar pelengkap. Ia menjadi ruang pertemuan, ruang ziarah, sekaligus ruang kontemplasi yang menyatukan manusia dengan jejak leluhur.

Detail arsitektur memperkuat karakter historis masjid ini. Pintu utama bergaya kupu tarung menghubungkan ruang inti dengan serambi. Dua daun pintu setinggi 195 cm dan lebar 195 cm membuka akses menuju ruang sakral. Di kanan dan kiri, pintu samping berukuran lebih kecil (195 cm × 125 cm) memperlihatkan hirarki ruang yang jelas. Ventilasi kayu berbentuk persegi dengan teralis sederhana mengatur sirkulasi udara sekaligus menjaga kesan tertutup dan khusyuk.
Langit-langit berbentuk bujur sangkar mempertegas kesatuan geometris bangunan. Tidak ada ornamen berlebihan. Kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama. Arsitektur masjid ini berbicara dengan bahasa keheningan, bukan kemegahan.
Masjid Banyusumurup hari ini tidak hanya berdiri sebagai bangunan tua. Masjid kuno ini menjadi penanda bahwa sejarah Jawa tidak pernah steril dari konflik. Kekuasaan, darah, dan spiritualitas saling bertaut. Di satu sisi, masjid menyimpan memori kelam tentang eksekusi politik. Di sisi lain, ia menghadirkan tempat suci untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Di tengah arus modernitas, Masjid Banyusumurup mengajarkan satu hal penting: peradaban tidak pernah dibangun dari satu warna. Ia lahir dari pertarungan, kompromi, dan pencarian makna. Dan di Banyusumurup, semua itu terpatri dalam kayu, ruang, dan doa yang tak pernah putus.


Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial 