catrawarta.com — Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat strategis di Selat Malaka, khususnya melalui garis pantai panjang di Sumatra bagian timur yang langsung menghadap jalur pelayaran tersibuk di dunia tersebut. Secara hukum internasional, Indonesia bersama Malaysia dan Singapura merupakan negara pantai (littoral states) yang memiliki hak dan tanggung jawab dalam pengelolaan serta keamanan selat, sebagaimana diatur dalam rezim transit passage UNCLOS 1982.
Dalam konteks ini, peran Indonesia cukup penting dalam menjaga stabilitas keamanan, terutama melalui patroli bersama seperti Malacca Strait Patrol (MSP) untuk menekan perompakan dan ancaman keamanan laut. Dengan kata lain, secara geopolitik, Indonesia adalah “penjaga” utama sisi barat Selat Malaka, terutama dari wilayah Aceh hingga Riau.
Kini, selat Malaka kembali menjadi sorotan karena meningkatnya aksi perompakan dan penyelundupan. Menurut laporan ReCAAP ISC, jumlah insiden perompakan di Asia meningkat 23% pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total 132 insiden dilaporkan.
Presiden Prabowo Subianto menyebutkan, perairan Indonesia memiliki peranan yang sangat penting, mirip dengan Selat Hormuz. Ia menjelaskan, meskipun Selat Hormuz berpengaruh pada harga minyak global, sekitar 70 persen kebutuhan energi di Asia Timur bergantung pada jalur laut Indonesia.
“Yang sekarang, kuncinya Hormuz itu dipegang oleh satu negara. Tapi, sadarkah kita? Bahwa 70 persen kebutuhan energi Asia Timur, 70 persen perdagangan lewat laut-laut Indonesia,” kata Prabowo saat memberikan pengarahan dalam rapat kerja pemerintahan di Istana Merdeka Jakarta, Rabu (8/4/2026) lalu.
Prabowo menegaskan pentingnya Selat Malaka, Selat Sunda dan Selat Makassar sebagai bagian dari perairan Indonesia. Pernyataan ini menegaskan, Indonesia memiliki peran strategis yang signifikan dan menjadi sorotan dunia. Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk menjaga dan mengelola sumberdaya ini dengan baik.
Indonesia Punya Sumber Daya Alam Melimpah
Indonesia tidak hanya memiliki lokasi yang strategis, tetapi juga melimpah dengan sumber daya alam yang berharga. Presiden Prabowo percaya, negara ini dapat menjadi kuat dan sejahtera jika semua kekayaan tersebut dikelola dengan baik.
“Kita sendiri tidak sadar betapa besarnya bangsa Indonesia, betapa kayanya bangsa Indonesia, betapa kuatnya bangsa Indonesia,” ungkap Prabowo.
Ia menekankan, banyak negara asing yang berusaha menguasai Indonesia dan mengeksploitasi kekayaan alamnya dengan cara memecah belah. Dalam kondisi dunia saat ini, penting bagi bangsa Indonesia untuk bersatu dan tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak luar.
“Ratusan tahun ego, ambisi ini digunakan oleh kekuatan asing. Itu namanya devide et impera. Ini bukan hal baru, ada di buku-buku sejarah,” jelasnya.
Dengan kerja sama internasional dan upaya penanganan yang terus ditingkatkan, diharapkan Selat Malaka dapat menjadi jalur perdagangan yang aman dan stabil.
Tingkatkan Potensi Ekonomi
Dalam suatu kesempatan Komisaris Pelindo, Arief Poyuono pernah menyebutkan, sedikitnya lebih dari 90.000 kapal setiap tahunnya melintas di Selat Malaka, sehingga keberadaan selat ini meningkatkan potensi ekonomi Sumatra untuk berrumbuh dan bertindak sebagai pusat pasar yang potensial untuk pengembangan maritim, industri dan pariwisata.
Dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen, menurut Arief Poyuono, mau tidak mau Pemerintah Indonesia harus memanfaatkan posisi ini melalui proyek-proyek infrastruktur di sekitar selat Malaka sebagai Economic Zone Potential untuk membangun dan mengembangkan Infrastruktur dan Investasi serta kawasan industri pelabuhan transhipment sebagai international hub, seperti pengembangan Pelabuhan Dumai dan penetapan pelabuhan ship to ship (STS) untuk angkutan BBM ,Crude dan LNG di Pulau Nipah. (Berbagai Sumber)

WFH Tiap Jumat, Menag: Cara Kerja Baru Hadirkan Layanan untuk Umat 