catrawarta.com — Tuberkulosis (TBC) mencapai 1.060.000 kasus per tahun. Angka yang fantastis ini menempatkan Indonesia di peringkat kedua pemilik kasus TBC terbanyak di dunia setelah India, sebuah realitas yang menuntut penanganan lintas sektor.
Dosen FK-KMK UGM, dr Rina Triasih MMed(Paed) PhD SpA(K), menyoroti adanya jurang lebar antara estimasi kasus dan jumlah pasien yang berhasil terdeteksi. Menurutnya, masih banyak pasien yang berada di luar sistem layanan kesehatan sehingga berpotensi terus menularkan penyakit di lingkungan mereka.
“Prediksinya mencapai 1 juta, tetapi yang sudah teridentifikasi hanya beberapa ratus ribu. Masih banyak sekali pasien di luar sana yang TBC dan belum ditemukan atau diobati oleh dokter,” ujar Rina.
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala awal dan kurangnya literasi kesehatan menjadi hambatan utama. Banyak warga baru memeriksakan diri saat kondisi sudah parah, padahal deteksi dini adalah kunci memutus rantai penularan yang sempat melonjak drastis pasca-pandemi Covid-19.
Pemeriksaan Keliling
Menanggapi tantangan tersebut, Pusat Kedokteran Tropis UGM melalui inisiatif Zero TB Yogyakarta menjalankan strategi Active Case Finding (ACF). Metode tersebut menjemput bola menggunakan fasilitas X-Ray keliling untuk memeriksa masyarakat secara langsung di pemukiman.
”Kita menjemput pasiennya dan bukan menunggu pasien datang ke rumah sakit atau puskesmas. Metode ini terbukti efektif menemukan kasus-kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi,” tambah Rina menjelaskan efektivitas program.
Selain temuan kasus baru, ancaman TBC Resisten Obat juga mengintai akibat pengobatan yang tidak tuntas. Ia menjelaskan banyak pasien berhenti minum obat setelah dua bulan karena merasa tubuhnya sudah membaik, padahal kuman belum sepenuhnya hilang dan justru bermutasi.
Faktor Lingkungan
Faktor sosial seperti lingkungan tempat tinggal yang kumuh dan sempit turut memperparah keadaan. Kondisi rumah yang tidak sehat membuat proses penyembuhan melambat dan mempercepat penularan kepada anggota keluarga lainnya dalam satu atap.
Edukasi inovatif menjadi solusi yang ditawarkan, Rina untuk meningkatkan literasi masyarakat. Ia menyarankan agar sosialisasi tidak lagi sekadar poster, melainkan melibatkan penyintas untuk berbagi kisah nyata guna memutus stigma negatif terhadap pasien TBC.
Sebagai langkah strategis menuju target eliminasi TBC 2030, ia merekomendasikan tiga pilar utama yakni Search, Treat, and Prevent. Fokusnya adalah mencari pasien secepat mungkin, memberikan pengobatan hingga sembuh total, dan melakukan pencegahan masif.

Indonesia Beresiko “Hilang” Di Tengah Konflik Global 