catrawarta.com — Suasana hangat menyelimuti Kompleks Kepatihan. Ribuan orang tampak memadati area perkantoran Pemerintah Daerah DIY. Mereka ingin bersilaturahmi dengan Gubernur DIY Hamengku Buwono X dan Wakil Gubernur Paku Alam X.
Antrean panjang mengular. Semua terlihat sumringah karena akan berjumpa dengan sosok penting Kota Budaya. Tidak ada wajah-wajah kusut, panas terik bukan masalah bagi mereka. Yang penting bisa bertemu dengan junjungannya.
Bukan itu saja. Mereka makin sumringah karena Deretan gerobak angkringan, aroma gurih soto, hingga segarnya es dawet tampak berjejer rapi, menyulap acara Silaturahmi Idulfitri menjadi pesta kuliner rakyat yang meriah.
Bukan sekadar jamuan biasa, kehadiran puluhan UMKM merupakan langkah nyata Pemda DIY untuk mengangkat ekonomi kerakyatan. Momen Lebaran tidak hanya menjadi ajang maaf-memaafkan, tetapi juga panggung bagi para pelaku usaha kecil untuk naik kelas dan memamerkan produk unggulannya.
Produk Lokal juga Berkualitas
Penanggung jawab (PIC) UMKM, Tya menuturkan, persiapan dilakukan secara totalitas. Hal itu mengingat antusiasme warga yang luar biasa, setiap pedagang menyiapkan ratusan hingga ribuan porsi.
”Kami sangat senang karena momen ini bisa mengangkat UMKM. Harapannya, masyarakat makin sadar bahwa produk lokal Yogyakarta punya kualitas jempolan,”ungkap Tya penuh semangat.
Cerita menarik datang dari Parjono, seorang pedagang angkringan asal Gunungkidul. Mendapat pesanan hingga lebih dari seribu porsi dalam satu gerobak, ia tidak sanggup jika harus bekerja sendiri. Akhirnya, ia memutuskan untuk ”berbagi rezeki” dengan menggandeng tetangga-tetangganya di lingkungan rumah.
”Kalau bikin sendiri tidak mampu. Jadi saya ajak UMKM di sekitar rumah untuk kolaborasi. Ini benar-benar membantu usaha kecil seperti kami,” kata Parjono yang biasanya mangkal di kawasan Giwangan.
Menu Merakyat UMKM
Di gerobaknya, tersaji lengkap mulai dari bakwan, tempe, hingga aneka sate-satean yang menjadi primadona. Tak ketinggalan nasi uduk dan sambal khas angkringan yang membuat warga rela antre demi mencicipi kelezatannya.
Tak jauh dari deretan soto, pedagang lekker yang biasa mangkal di Taman Siswa, Pak Gun tampak sibuk melayani pembeli. Baginya, undangan dari panitia untuk ikut serta di Kepatihan adalah berkah luar biasa setelah masa sepi selama puasa.
”Alhamdulillah senang sekali. Kemarin sempat sepi karena puasa dan faktor cuaca. Begitu ditawari ikut halal bihalal di sini, langsung saya iyakan,” ujarnya sambil menyiapkan sekitar 700 porsi lekker renyah.
Bagi para pedagang seperti Parjono dan Gun, acara ini bukan sekadar urusan transaksi, melainkan harapan. Di tengah perayaan Hari Jadi ke-271 DIY, mereka menyelipkan doa agar Yogyakarta semakin maju, ekonominya mapan, namun tetap mempertahankan semangat guyub rukun yang menjadi jati diri warga Jogja.
Angkringan, salaman merupakan cara masyarakat Jawa mengungkapkan syukur sekaligus mempererat persaudaraan. Ketika semua menjadi satu, ada harapan bagi masa depan.

Penerimaan Mahasiswa PTN Jalur SNBP 2026 Diumumkan, 189.017 Siswa Dinyatakan Diterima 