catrawarta.com — Narasi yang menyebutkan sudah 100 persen pengungsi bencana Sumatra mendapat tanggapan dari berbagai pihak termasuk warganet yang membantah klaim tersebut. Mereka marah karena kenyataannya belum 100 persen pengungsi meninggalkan tenda.
Menanggapi hal itu, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menjelaskan bahwa pengungsi yang tidak tinggal di tenda mendekati atau hampir 100 persen. Ia sendiri mengatakan tidak pernah memberi pernyataan semua pengungsi atau 100 persen sudah tidak berada di tenda.
Tito yang juga Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera menjelaskan beberapa kali, hampir seluruh pengungsi terdampak bencana di Sumatra kini tidak lagi tinggal di tenda. Capaian tersebut secara spesifik merujuk pada kondisi penanganan pengungsi yang menunjukkan kemajuan signifikan.
Memang, pemerintah sejak sebelum Ramadan telah menyatakan para pengungsi harus sudah tidak di tenda lagi ketika Lebaran. Mereka bisa ditampung di hunian sementara yang sudah jadi.
Namun demikian, dalam kenyataanya ada beberapa kepala keluarga yang belum bisa menempati hunian ketika Lebaran. Masihada yang berada di tenda karena satu dan lain hal. Pemerintah juga telah menyatakan belum 100 persen bisa di tenda, ada sebagian kecil yang menunggu hunian sementara jadi.
Pengungsi di Tenda 47 KK
Berdasarkan data PRR, jumlah pengungsi yang masih dalam penanganan saat ini tersisa sekitar 47 kepala keluarga (KK) atau sekitar 173 jiwa. Angka tersebut menurun drastis dibandingkan kondisi awal yang mencapai 2,1 juta jiwa. Karena itu, kondisi pengungsi disebut telah mendekati 100 persen, tidak lagi berada di tenda, meski belum sepenuhnya tuntas.
”Pengungsi mendekati 100 persen, mendekati, saya enggak bilang 100 persen,”ujar Tito.
Ia menambahkan, capaian tersebut menggambarkan progres nyata dalam penanganan pengungsi, khususnya dalam memastikan mereka tidak lagi berada di tenda. Pada sisi lain, Tito mengungkapakan proses pemulihan pascabencana secara keseluruhan masih terus berjalan dan mencakup berbagai sektor yang membutuhkan waktu penyelesaian.
Ia memberi contoh fasilitas pendidikan masih ada yang perlu mendapat perhatian dan bantuan. Ada juga sungai, beberapa jalan desa, jalan kabupaten yang cukup banyak jumlahnya juga menunggu sentuhan.
Pemerintah, tegasnya, terus mendorong percepatan pemulihan infrastruktur dan layanan publik secara bertahap agar kondisi di daerah terdampak dapat kembali normal secara menyeluruh. Ia juga berharap informasi mengenai perkembangan penanganan pascabencana dapat dipahami secara utuh dengan menempatkan capaian pada konteksnya masing-masing.

Kerja Tak Menjamin Sejahtera, Generasi Z Menghadapi Realitas Baru 