catrawarta.com — Suasana hangat dan khidmat terasa di Kraton Yogyakarta pada Selasa (17/3/2026). Di tengah kompleks keraton, tepatnya di Bangsal Pareden, prosesi Numplak Wajik digelar sebagai penanda dimulainya rangkaian perayaan Grebeg Sawal tahun 1959 Dal.
Prosesi ini dipimpin oleh GKR Mangkubumi. Dengan penuh ketelitian, ia memulai tahapan awal pembuatan gunungan—susunan hasil bumi yang kelak akan dibagikan kepada masyarakat. Wajik, makanan tradisional berbahan ketan, menjadi simbol dasar dalam ritual tersebut, melambangkan harapan akan kemakmuran dan kebersamaan.
Numplak Wajik bukan sekadar seremoni pembuka. Di dalamnya tersimpan filosofi tentang kerja bersama, ketekunan, dan rasa syukur. Dari dapur-dapur keraton di kawasan Magangan, para abdi dalem mulai menyiapkan berbagai komponen gunungan dengan tata cara yang telah diwariskan turun-temurun.
Tujuh Gunungan
Puncak perayaan akan berlangsung dalam tradisi Grebeg Sawal pada Jumat (20/3/2026). Pada momen tersebut, Keraton Yogyakarta akan mengeluarkan tujuh gunungan untuk didistribusikan ke sejumlah titik, seperti Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman, Kepatihan Yogyakarta, dan Dalem Mangkubumen.
Bagi masyarakat, gunungan bukan sekadar hasil bumi. Ia dipercaya membawa berkah, sehingga tradisi perebutan isi gunungan selalu dinanti setiap tahun. Di balik keramaian itu, tersimpan makna mendalam tentang hubungan harmonis antara raja dan rakyat, yang terus dijaga oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta keluarga keraton.
Melalui rangkaian ini, Keraton Yogyakarta kembali mengingatkan bahwa tradisi bukan hanya warisan masa lalu, melainkan juga jembatan yang menghubungkan nilai-nilai kebersamaan dengan kehidupan masa kini. (Sumber Keraton Yogayakarta)

Layani Pemudik Polres Temanggung Sediakan Kopi, Cukur Gratis Hingga Cuci Motor 