catrawarta.com — Maraknya aktivitas media sosial (medsos) dinilai memicu meningkatnya disinformasi di masyarakat, khususnya di wilayah DIY. Kondisi ini membuat berbagai informasi yang belum tentu benar cepat tersebar dan berpotensi memicu kesalahpahaman hingga tindakan kekerasan di tengah masyarakat.
Kepala Bidang Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan SIK, CPHR mengatakan, dinamika medsos saat ini sangat luar biasa, terutama karena kuatnya pengaruh konten viral yang mudah menyebar tanpa batas. Akibatnya, tidak sedikit informasi yang sebenarnya terjadi di daerah lain justru dinarasikan seolah-olah terjadi di Yogyakarta.
“Memang luar biasa dinamika medsos, khususnya di Yogyakarta. Medsos dicecar viralnya. Terkadang kejadian di tempat lain, seperti di Jawa Tengah, tetapi narasinya seolah terjadi di Yogya,” ujar Ihsan dalam Talk Show Bincang Hari Ini di Jogja TV, Rabu (11/3/2026).
Talk show yang digelar dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tersebut juga menghadirkan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY Drs Hudono SH serta praktisi media sosial Ipan Pranashakti Pragolopati. Diskusi yang dipandu host Vira Maya Permatasari itu mengangkat tema ‘Sesarengan Jaga Jogja dengan Informasi Sehat’.
Dalam kesempatan itu, Ihsan menantang media mainstream untuk semakin memperkuat perannya sebagai rujukan informasi yang kredibel di tengah derasnya arus informasi di medsos. Menurutnya, media arus utama memiliki tanggung jawab penting untuk menjadi penjernih di tengah kebisingan informasi yang beredar di ruang digital.
Kode Etik dan Verifikasi Ketat
Ketua PWI DIY, Hudono, menilai perkembangan medsos memang menjadi tantangan besar bagi media mainstream yang bekerja berdasarkan kode etik jurnalistik dan proses verifikasi yang ketat. Ia mengingatkan, bila media arus utama tidak mampu beradaptasi dengan cepatnya arus informasi, maka posisinya dapat tergeser oleh medsos.
Sementara itu, praktisi media sosial Ipan Pranashakti Pragolopati menyoroti masih minimnya masyarakat yang melaporkan kasus hoaks atau disinformasi yang mereka alami. Padahal, banyak korban hoaks memilih tidak melapor karena merasa prosesnya panjang atau khawatir tidak menghasilkan penyelesaian yang jelas.
Ia berharap kebisingan informasi di media sosial dapat ditekan melalui peningkatan literasi digital masyarakat sekaligus penguatan peran media mainstream sebagai sumber informasi yang terpercaya. Dengan sinergi tersebut, diharapkan ruang informasi publik dapat lebih sehat dan mampu menjaga kondusivitas di Yogyakarta.

Praperadilan Kandas, Status Tersangka Yaqut, Sah 