catrawarta.com — *Jika buku dapat disimpan secara digital, maka pengetahuan dapat dibagikan kepada siapa saja tanpa batas geografis dan ekonomi.*
Delapan Maret bukan sekadar catatan kalender bagi dunia literasi digital. Pada hari itu, tahun 1947, lahir seorang pemikir sederhana yang kelak mengubah cara manusia membaca dan mengakses pengetahuan. Ia adalah Michael S. Hart—penulis Amerika yang kemudian dikenal sebagai penemu buku elektronik (e-book) dan pelopor perpustakaan digital dunia.
Kelahirannya pada 8 Maret 1947 mungkin tidak pernah dibayangkan akan membawa perubahan besar dalam sejarah literasi manusia. Hart lahir dalam keluarga biasa di Amerika Serikat, jauh sebelum dunia mengenal internet, telepon pintar, atau perpustakaan digital. Namun perjalanan hidupnya kelak membuktikan bahwa satu gagasan yang lahir dari pikiran sederhana dapat mengubah arah peradaban pengetahuan.
Refleksi atas kelahiran Hart mengingatkan bahwa tokoh besar sering lahir tanpa tanda-tanda kemegahan. Mereka tumbuh sebagai manusia biasa, tetapi memiliki keberanian untuk berpikir melampaui zamannya.
Menyimpan & Menyebarluaskan Teks
Peristiwa penting dalam hidup Hart terjadi pada 4 Juli 1971 ketika ia memiliki akses ke komputer mainframe di Universitas Illinois. Pada saat komputer masih menjadi teknologi langka dan mahal, Hart justru melihat potensi yang berbeda. Ia tidak sekadar memanfaatkannya untuk menghitung atau memproses data, melainkan untuk menyimpan dan menyebarkan teks.
Hari itu Hart mengetik ulang sebuah dokumen sejarah, yaitu United States Declaration of Independence, ke dalam komputer. Tindakan yang tampak sederhana tersebut kemudian dikenang sebagai kelahiran buku elektronik pertama di dunia.
Dari eksperimen kecil itu, lahirlah sebuah gagasan besar. Jika buku dapat disimpan secara digital, maka pengetahuan dapat dibagikan kepada siapa saja tanpa batas geografis dan ekonomi.
Berangkat dari visi tersebut, Hart kemudian mendirikan Project Gutenberg pada tahun 1971. Proyek ini menjadi perpustakaan digital tertua di dunia yang bertujuan mendigitalkan karya sastra klasik dan menyediakannya secara gratis bagi masyarakat global.
Nama “Gutenberg” dipilih untuk menghormati pelopor mesin cetak modern, Johannes Gutenberg. Jika Gutenberg pada abad ke-15 membuka revolusi percetakan, Hart pada abad ke-20 membuka revolusi literasi digital.
Tidak Boleh Jadi Barang Mewah
Refleksi atas kelahirannya menjadi semakin bermakna ketika melihat gagasan yang ia perjuangkan. Hart percaya bahwa pengetahuan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dapat diakses oleh segelintir orang. Ia ingin buku tersedia bagi siapa saja, di mana saja, tanpa biaya.
Karena itu, Project Gutenberg dibangun dengan semangat sukarela. Para relawan dari berbagai negara membantu mengetik ulang teks klasik, memindai buku, memeriksa kesalahan naskah, hingga memastikan karya-karya tersebut dapat diakses oleh pembaca di seluruh dunia.
Dalam pandangan Hart, komputer bukan sekadar teknologi, melainkan alat pembebasan pengetahuan. Melalui digitalisasi buku, seseorang di negara berkembang dapat membaca karya sastra klasik yang sebelumnya hanya tersedia di perpustakaan universitas atau lembaga penelitian besar.
Puluhan tahun setelah kelahirannya, gagasan Hart terbukti visioner. Ketika internet berkembang pesat pada dekade 1990-an hingga era digital saat ini, koleksi Project Gutenberg menjadi salah satu sumber literatur daring paling penting di dunia. Ribuan buku klasik tersedia secara gratis dan dapat diunduh oleh jutaan pembaca dari berbagai negara.
Refleksi atas kelahiran Hart bukan sekadar mengenang seorang tokoh teknologi, tetapi juga mengingatkan tentang pentingnya visi kemanusiaan dalam ilmu pengetahuan. Hart tidak mengejar keuntungan finansial dari gagasannya. Ia lebih percaya bahwa akses terhadap ilmu adalah hak setiap manusia.
Pentingnya Akses Pengetahuan Dibuka
Pada 6 September 2011, Michael S. Hart meninggal dunia di Urbana, Illinois, pada usia 64 tahun. Namun gagasan yang ia tanamkan terus hidup dan berkembang. Hingga kini, Project Gutenberg tetap menjadi perpustakaan digital global yang menyediakan puluhan ribu buku gratis bagi masyarakat dunia.
Karena itu, setiap tanggal 8 Maret dapat dimaknai bukan hanya sebagai hari kelahiran seorang tokoh, tetapi sebagai momentum refleksi tentang pentingnya membuka akses ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Dari kelahiran seorang pemuda sederhana pada 1947, dunia memperoleh sebuah warisan besar. Perpustakaan digital yang tidak mengenal batas negara, bahasa, maupun kelas sosial.
Berangkat dari gagasan itulah Hart membuktikan satu hal sederhana namun mendalam—bahwa buku, ketika dibebaskan dari batasan, dapat menjadi cahaya yang menerangi peradaban manusia. ***

Siaga 1 TNI, Kewaspadaan Melindungi Rakyat di Tengah Gejolak Global 