Warta

Menumbuhkan Sekolah Manusiawi, Menanamkan Sikap Toleransi

catrawarta.com — Ibadah Jumat akhir tahun 2025 lalu menjadi ibadah yang terlupakan bagi siswa dan guru SMA Negeri 72 Jakarta. Di tengah...

NYAMAN: Ilustrasi harus menjadi sekolah yang nyaman dan manusiawi bagi siswa dan seluruh penghuninya.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comIbadah Jumat akhir tahun 2025 lalu menjadi ibadah yang terlupakan bagi siswa dan guru SMA Negeri 72 Jakarta. Di tengah ibadah, tiba-tiba saja terdengar ledakan. Tidak begitu besar tetapi sudah membuat seluruh siswa berhamburan. Ada yang terluka, ada yang panik, ada yang pingsan.

Tangis terdengar di sekolah. Guru segera mengontak aparat berwenang. Tak berapa lama polisi dating melakukan pengamanan dan penyisiran. Petugas Kesehatan membawa yang terluka ke fasilitas kesehatan terdekat.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) turun tangan. Mereka melakukan penyelidikan an penyidikan. Tidak ditemukan unsur ekstremisme atau bergabungnya pelaku yang juga siswa setempat ke salah satu paham menyimpang. Ia mengikuti grup True Crime Community dan belajar membuat peledak.

Ternyata, menurut Kepala BNPT Eddy Hartono, pelaku merupakan korban perundungan. Ia sering mendapat perlakukan tidak menyenangkan. Dampaknya, emosi meluap dalam diam. Peledak dibuat sendirian, dan diledakkan di sekolah.

Berawal dari Kasus Perundungan

Banyak kasus kekerasan yang berawal dari perundungan. Pelaku diam tetapi menyimpan bara dendam. Ia tetap bergaul seperti biasa dan menerima perundungan tanpa amarah. Di banyak kasus di negara-negara maju, koban perundungan akhirnya angkat senjata dan meluapkan emosi, menembak teman-temannya.

Pelaku bukan masuk dalam kategori masuk dalam perangkap paham ekstrem terkait keyakinan tertentu tapi lebih pada kemarahan akibat perundungan. Begitu parahkah dampak perundungan?

Sosiolog UGM, AB Widyanta mengatakan, kasus peledakan di SMA 72 Jakarta dapat dilihat dari kacamata sosiologi dan psikososial. Tekanan psikologis akibat perundungan yang terpendam akhir tak tertahankan. Belum lagi kondisi sosial ekonomi keluarga yang sulit atau kemiskinan.

Menurut Widyanta, kasus tersebut lebih kepada luapan emosi personal yang juga terjadi di banyak negara maju. Mereka begitu mudah mengakses berbagai akun dewasa serta leluasa mendapat senjata.

Di Indonesia, akses senjata api memang susah tetapi untuk membuat peledak ternyata cukup mudah. Ada banyak toko menjual bahan kimia yang tergolong bebas, ada pula pembuat petasan dan mercon yang juga mudah mendapatkan peledak.

Perhatian dan Keberpihakan Sekolah

Widyanta menegaskan, sekolah bertanggung jawab atas perkembangan anak selama di sekolah. Kepedulian dan keberpihakan kepada siswa yang memerlukan pendampingan harus terus ditumbuhkan. Sekolah juga harus menjadi tempat yang manusiawi bagi seluruh penghuninya.

Sementara itu, Wakil Rektor Sosiolog Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Prof Mochamad Sodik menegaskan pentingnya pendidikan Islam moderat sejak dini guna mencegah masuknya paham ekstrem pada siswa.

Sekolah, tegasnya, memiliki tanggung jawab strategis yang tak hanya berbicara soal kurikulum tetapi juga pembentukan karakter anak dan seluruh penghuninya. Para guru dan tenaga kependidikan perlu mengenali narasi intolen atau sesuatu yang berbau ekstrem. Sebenarnya, hal itu sudah terlihat Ketika siswa terlibat dalam diskusi atau dialog dengan teman maupun orang lain.

Di samping sekolah, keluarga juga merupakan madrasah pertama. Pola asuh otoriter tanpa ruang dialog berpotensi mendorong anak mencari jawaban lain di luar rumah. Orangtua perlu membangun komunikasi terbuka, aktif menanyakan konsumsi media digital anak dan menumbuhkan sikap toleran.

Memang tidak ringan tugas sekolah dan orangtua. Pendekatan persuasive, dialogis, edukatif dan manusiawi jauh lebih penting dibandingkan stigmatisasi. Pencegahan radikalisme bisa berakar pada kebudayaan dan kearifan lokal. Hidupkan kembali sapa aruh, gotong royong, solidaritas sosial dan kepedulian pada mereka yang rentan terpapar paham ekstrem.

Ini bukan semata-mata ancaman pada keamanan lingkungan dan social tetapi lebih kepada masa depan anak. Selamatkan mereka yang rentan, selamatkan harapan anak zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *