catrawarta.com — Dokter sekaligus influencer kecantikan Richard Lee resmi ditahan oleh penyidik Polda Metro Jaya pada Jumat (7/3/2026) setelah menjalani pemeriksaan selama sekitar empat jam. Polisi menilai ia tidak kooperatif dalam proses penyidikan, antara lain karena beberapa kali mangkir dari pemeriksaan dan tidak memenuhi kewajiban wajib lapor. Dalam waktu yang sama, Richard Lee juga diketahui tetap aktif melakukan siaran langsung di media sosial untuk mempromosikan produk kecantikan.
Kasus ini berawal dari laporan dokter sekaligus kreator konten yang dikenal sebagai Doktif. Konflik keduanya sebelumnya berlangsung terbuka di media sosial, terutama terkait kritik terhadap produk kecantikan dan praktik promosi skincare. Perseteruan tersebut kemudian berujung pada proses hukum yang kini menyeret Richard Lee sebagai tersangka.
Di ruang digital, konflik tersebut bahkan berkembang menjadi tontonan publik. Dukungan pengikut, perdebatan warganet, hingga komentar antar kreator membuat kasus ini tidak hanya menjadi persoalan hukum, tetapi juga bagian dari dinamika industri kecantikan di media sosial.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan lanskap bisnis skincare dalam beberapa tahun terakhir. Platform seperti TikTok telah menjadi kanal pemasaran yang sangat efektif melalui praktik live selling. Dalam satu sesi siaran langsung, seorang influencer dapat mempromosikan sekaligus menjual produk kepada ribuan hingga jutaan pengikut.
Model bisnis ini membuat figur publik—termasuk dokter—memiliki peran ganda: sebagai pemberi edukasi kesehatan sekaligus promotor produk. Di satu sisi, konten ulasan skincare membantu konsumen memahami kandungan dan fungsi produk. Namun di sisi lain, kedekatan antara edukasi dan promosi sering kali membuat batas keduanya menjadi kabur.
Kasus Richard Lee menunjukkan bagaimana persaingan dalam bisnis skincare digital tidak hanya berkutat pada kualitas produk, tetapi juga reputasi, pengaruh media sosial, dan kepercayaan publik. Ketika konflik tersebut terjadi di ruang digital, ia dengan cepat berubah menjadi drama terbuka yang melibatkan jutaan penonton.
Industri kecantikan Indonesia memang tengah berkembang pesat, didorong oleh budaya konsumsi digital dan kekuatan influencer. Namun pertumbuhan itu juga menghadirkan tantangan baru: mulai dari etika promosi kesehatan hingga perlindungan konsumen.
Di tengah maraknya live selling, kasus ini menjadi pengingat bahwa dunia skincare bukan sekadar soal tren kecantikan. Ia juga merupakan bisnis besar yang menuntut transparansi, tanggung jawab, dan pengawasan yang lebih ketat.

Anak-anak dalam Bayang-bayang Radikalisme Digital 