Catra Wisata, Warta

Kembalikan Ekosistem Gajah, 90 Persen Taman Nasional Tesso Nilo Rusak

catrawarta.com — Perburuan gajah, pembunuhan dan jerat masih terjadi. Belum lama, seekor gajah mati dengan kepala hilang. Setelahnya, anak gajah mati setelah...

PERBURUAN: Ilustrasi anak gajah dan gajah dewasa yang masih menjadi sasaran perburuan liar.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comPerburuan gajah, pembunuhan dan jerat masih terjadi. Belum lama, seekor gajah mati dengan kepala hilang. Setelahnya, anak gajah mati setelah terjerat perangkap. Kondisi ini memprihatinkan banyak pihak, apalagi habitat gajah terus berkurang.

Seperti yang terjadi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, Sumatra. Masyarakat menemukan bangkai gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) tepatnya di Resort Lancang Kuning, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui.

Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan sebagian besar taman nasional tersebut telah rusak. Kerusakan mencapai 90 persen dan selama ini tak terlihat. Saat ini, kementeriam berusaha melakukan reforestasi TNTN melalui penyediaan peta Jasa Lingkungan Hidup (JLH) untuk mendukung pemulihan serta pembangunan kembali ekosistem gajah.

”Melalui peta JLH, kami akan membantu memprioritaskan wilayah dengan nilai jasa lingkungan tinggi untuk rehabilitasi dan restorasi. Selain itu, dalam pembangunan ekosistem gajah atau pembuatan saltlick, kami dapat menyediakan data peta JLH pengatur air,” papar Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono.

Hanya Tersisa Sedikit

Diaz mengatakan pihaknya dapat memperkuat rehabilitasi melalui dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) untuk upaya rehabilitasi dan reforestasi. Ia mengakui TNTN mengalami degradasi serius, karena lebih dari 90 persen kawasannya mengalami kerusakan.

”Dukungan KLH/BPLH merupakan wujud komitmen dalam penghijauan kembali kawasan tersebut. Kami berkomitmen menghijaukan kawasan Tesso Nilo karena tadinya ada 81.000 hektare, sekarang jadi tinggal sedikit,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyampaikan bahwa sinergi 11 kementerian dan lembaga menjadi kunci keberhasilan restorasi dan rehabilitasi TNTN. Kementerian menargetkan 2.574 hektare pemulihan pada tahap pertama.

Jerat Hewan Jadi Ancaman

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof Raden Wisnu Nurcahyo menegaskan penggunaan jerat pada satwa liar merupakan ancaman kejam yang menyebabkan cedera fisik parah. Hal itu dapat mengakbatkan kecacatan permanen, hingga kematian secara lambat akibat kelaparan, dehidrasi, atau infeksi bakteri pada hewan.

”Jerat hewan memicu penurunan populasi drastis, mengganggu ekosistem, dan berisiko menularkan penyakit zoonosis karena infeksi bakteri,” jelasnya.

Pada jangka panjang, anak gajah yang selamat dan bisa lepas dari jerat bakal sering mengalami penurunan kualitas kesehatan yang berdampak pada rendahnya tingkat keberhasilan reproduksi. Anak gajah yang cacat juga dapat mengalami gangguan perilaku dan pergerakan dalam bersosialisasi dengan gajah lain

Ia mengungkapkan, penggunaan bahan jerat berupa kawat baja atau sling yang sangat kuat, dapat menangkap, melukai, hingga membunuh satwa liar berukuran besar maupun kecil. Hilang satu individu gajah muda dapat mengurangi potensi regenerasi kelompok, melemahkan struktur sosial populasi gajah, dan menekan populasi yang sudah terancam kritis akibat jerat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *