Warta

Tingkatkan Kewaspadaan, Kematian akibat Virus Nipah Capai 75 Persen

catrawarta.com — Kewaspadaan pada penyakit virus Nipah perlu ditingkatkan. Ini karena tingkat kematian akibat virus yang tergolong anggota genus Henipavirus dan famili...

KEMATIAN: Tingkat kematian akibat virus Nipah cukup tinggi, masyarakat diminta waspada dan selalu menjaga kebersihan.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comKewaspadaan pada penyakit virus Nipah perlu ditingkatkan. Ini karena tingkat kematian akibat virus yang tergolong anggota genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae cukup tinggi yakni mencapai 40-75 persen.

Karena itu, Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Kementerian Kesehatan RI, Murti Utami mengeluarkan surat edaran agar seluruh instansi dan juga masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

Ia menjelaskan, penyakit virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh
virus Nipah, anggota genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.

Virus tersebut memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.), yang dapat menularkan virus ke manusia secara langsung atau melalui perantara hewan lain seperti babi serta melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus (misalnya buah atau nira).

Kontak Erat dengan Penderita

”Penularan antar manusia juga dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinis bervariasi, mulai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan hingga berat, serta ensefalitis yang dapat berakibat kematian,” papar Murti dalam surat edarannya.

Ia mengatakan, tingkat kematian dilaporkan mencapai 40–75 persen. Pada tahun 1998–1999, wabah pertama terjadi pada peternak babi di Desa Sungai Nipah, Malaysia yang menyebar ke Singapura. Kasus manusia juga tercatat di India, Bangladesh, dan Filipina. Sejak 2001 hingga 2026, kasus penyakit virus Nipah dilaporkan secara sporadis di Bangladesh dan India.

Di India, infeksi virus Nipah (NiV) telah terjadi beberapa kali sejak tahun 2001, dengan wabah di Negara Bagian West Bengal pada tahun 2001 dan 2007, serta secara berulang di Negara Bagian Kerala sejak tahun 2018.

Di Negara Bagian West Bengal, wabah sebelumnya terjadi pada tahun 2001 (Distrik Siliguri) dan tahun 2007 (Distrik Nadia). Pada tanggal 14 Januari 2026, India kembali melaporkan kejadian kasus konfirmasi penyakit virus Nipah di Negara Bagian West Bengal.

Per 26 Januari 2026, telah dilaporkan sebanyak dua kasus konfirmasi tanpa kematian di Distrik North 24 Parganas, Negara Bagian West Bengal. Seluruh kasus konfirmasi merupakan tenaga kesehatan. Telah diidentifikasi lebih dari 120 kontak erat dan semuanya dilakukan karantina.

Investigasi Terus Dilakukan

”Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus Nipah pada manusia di Indonesia,” imbuh Murti.

Kendati demikian, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa.

Selain itu, hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada
reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp.) yang menandakan potensi sumber penularan di Indonesia.

Ia minta para kepala Dinas Kesehatan Provinsi, kepala Dinas Kesehatan kabupaten/kota, Kepala UPT Bidang Kekarantinaan Kesehatan, pimpinan rumah sakit, kepala puskesmas, dan kepala laboratorium kesehatan masyarakat di seluruh Indonesia untuk melaksanakan langkah-langkah antisipatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *