catrawarta.com — Indonesia telah menyatakan kesiapan untuk ikut serta dalam misi stabilisasi global melalui International Stabilization Force (ISF), pasukan penjaga perdamaian multinasional yang dibentuk di bawah payung Board of Peace (BoP). Pemerintah berkomitmen mengirim 8.000 personel sebagai bagian dari pasukan stabilisasi di Gaza, Palestina.
Pengiriman pasukan ini bukan semata kontribusi militer, tetapi juga dianggap sebagai bentuk tanggung jawab Indonesia untuk menjaga perlindungan warga sipil dan stabilitas kawasan konflik. Menlu Sugiono menegaskan bahwa pasukan Indonesia akan fokus pada misi perlindungan warga sipil, bukan operasi militer agresif atau pelucutan senjata pihak lain.
Isu biaya misi sempat menjadi perbincangan publik setelah muncul anggapan bahwa Indonesia diharuskan membayar iuran sebesar 1 miliar dolar AS untuk menjadi anggota Board of Peace. Menlu Sugiono meluruskan bahwa angka tersebut bukanlah iuran wajib keanggotaan dan bukan syarat menjadi anggota tetap organisasi internasional itu.
Sebagai gantinya, pemerintah menjelaskan bahwa pendanaan untuk keterlibatan pasukan Indonesia dalam ISF akan ditopang dari kombinasi kontribusi berikut:
- Komitmen finansial negara lain dan sektor swasta yang tergabung dalam Board of Peace sebagai dukungan operasional pasukan multinasional;
- Kontribusi yang dibayar melalui skema sukarela atau rekening yang dikelola lembaga internasional seperti Bank Dunia (pledges dari luar kewajiban iuran);
- Bagian pendanaan langsung dari Indonesia sendiri sebagai negara pengirim pasukan.
Total komitmen dukungan internasional yang disebutkan bisa mencapai beberapa miliar dolar AS, namun angka pastinya tergantung kesepakatan alokasi dana antarnegara penyumbang.
Kebijakan ini merupakan realisasi dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada pertemuan puncak Board of Peace di Washington DC yang juga dihadiri para pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat. Indonesia tampil sebagai salah satu negara kontributor awal dalam pasukan stabilisasi—sejalan dengan reputasi lama Indonesia di misi perdamaian dunia.
Keterlibatan Indonesia dalam ISF dan kontribusinya melalui pengiriman pasukan daripada pembayaran iuran mencerminkan perubahan peran negara dalam arsitektur keamanan global. Ini bukan sekadar langkah diplomatik, tetapi pernyataan nilai bahwa Indonesia mengutamakan keterlibatan langsung dalam perlindungan manusia dan stabilisasi sosial di wilayah konflik—bukan sekadar memberikan dukungan finansial. Pendekatan ini juga mengangkat wacana baru dalam kebijakan luar negeri Indonesia tentang kontribusi nyata terhadap perdamaian dunia dan tanggung jawab kemanusiaan global.

Pekerjaan Cukup untuk Bertahan, Keluarga Indonesia Sulit Bernapas 