Catra Cendekia

Hamka, Panjimas dan Bung Karno

catrawarta.com — Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang kemudian lebih populer dengan nama Hamka adalah sosok multi talenta. Ia bukan hanya ulama...

Majalah Panji Masyarakat , media yang dirintis Buya Hamka (diambil dari FB)

catrawarta.comHaji Abdul Malik Karim Amrullah yang kemudian lebih populer dengan nama Hamka adalah sosok multi talenta. Ia bukan hanya ulama atau mubalig besar yang pernah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai Ketua Umum, namun di masa-masa orde lama Hamka adalah politisi ulung yang kritis baik pernyataan-pernyataannya maupun karya tulisnya.

Sikap kritis Hamka menjadikan ia tak disukai penguasa saat itu, sehingga Hamka pun pernah dijebloskan ke penjara oleh kekuasaan orde lama (Soekarno). Bahkan, media tempat Hamka  bekerja (Majalah Panji Masyarakat/Panjimas) juga sempat diberangus. Padahal, kedua tokoh ini, menurut beberapa catatan, sudah berkawan lama.

Hamka juga seorang sastrawan dan penulis novel yang ulung, sudah tak terhitung karya Hamka yang kemudian menyebar. Sebagai ahli tafsir, Hamka menghasilkan Tafsir Al Qur’an yang menjadi rujukan banyak kalangan, yakni Tafsir Al Qur’an Al Azhar. Sedangkan, karya sastra yang berhasil melambungkan nama Hamka antara lain Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Merantau ke Deli

Jurnalistik

Cendekiawan muslim ini juga berkiprah di dunia jurnalistik. Sebelum membidani lahirnya beberapa penerbitan, Hamka muda sudah terbiasa mengisi tulisan di sejumlah majalan dan media pers di era sebelum kemerdekaan, pascakemerdekaan hingga di masa orde baru.

Panji Masyarakat atau Panjimas adalah media berbentuk majalah yang menjadi suara  Islam saat itu. Media ini didirikan Buya Hamka dan beberapa nama tokoh lain seperti Jusuf Abdullah PuarFaqih Usman dan H.M. Joesoef Ahmad pada Juli 1959 sebagai wadah dakwah dan pemikiran. Setelah mengalami pembredeilan karena memuat tulisan Bung Hatta, Panjimas terbit kembali pada 1966 di bawah pimpinan Hamka dan Rusydi Hamka yang berperan penting dalam pembangunan umat. 

Menurut buku Seabad Pers Kebangsaan, 1907–2007Panji Masyarakat merupakan media yang merdeka dari organ pergerakan, aliran, mazhab atau paham keagamaan manapun yang ada di Tanah Air. Secara eksplisit, majalah ini mengajak pembacanya untuk tidak terikat, apalagi sampai taklid, kepada sesuatu mazhab dan aliran pemikiran Islam. Sebaliknya, Panji Masyarakat mendorong pembacanya untuk mengembangkan ijtihad dan pemikiran independen.

Selalu Dinanti

Saat Hamka masih hidup Panji Masyarakat menjadi majalah yang selalu dinanti. Sebab, isian dalam majalan tersebut sangat lengkap, bukan hanya materi yang berkaitan dengan ibadah, melainkan juga ada kolom khusus yang ditulis Hamka dan tulisan-tulisan yang mampu memberikan wawasan dan pencerahan bagi pembacanya.

Pasca-wafatnya Hamka, Panjimas masih sempat eksis dengan tata warna dan kelola baru. Bahkan, porsi muatan politik cukup kental dan khas, meski masih tetap ada rubrik-rubrik khusus lainnya, sebagaimana Panjimas saat di bawah kepemimpinan Hamka.

Di era sekarang Panji Masyarakat bertransformasi menjadi media daring dengan rubrik-rubriknya meliputi Adab Rasul, Aktualita, Bintang Zaman, Cakrawala, Mutiara, Muzakarah (tanya jawab masalah Islam dan kemasyarakatan), Pengalaman Religius, Relung (editorial) dan Tafsir. (Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *