Warta

Pemerintah Resmi Melarang, Jangan Manfaatkan Gajah untuk Tunggangan!

catrawarta.com — Pemerintah melarang pemanfaatan gajah untuk kepentingan komersil maupun nonkomersil dengan cara ditunggangi. Larangan tersebut sesuai dengan Surat Edaran Direktorat Jenderal...

DILARANG: Atraksi gajah tunggang kini tak diperbolehkan.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comPemerintah melarang pemanfaatan gajah untuk kepentingan komersil maupun nonkomersil dengan cara ditunggangi. Larangan tersebut sesuai dengan Surat Edaran Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).

Dengan keluarnya surat edaran, segala praktik peragaan gajah tunggang di mana saja tidak diperbolehkan. Hal itu tidak sejalan dengan perlindungan, etika dan kesejahteraan satwa. Banyak tempat yang tak lagi memanfaatkan gajah sebagai tunggangan.

Surat pelarangan secara resmi tertuang pada Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penghentian Peragaan Gajah Tunggang di Lembaga Konservasi.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan hal itu. Kementerian melarang secara total penunggangan gajah. Ia menegaskan tak ada lagi Lembaga konservasi di Indonesia yang boleh melakukan atraksi gajah tunggang untuk wisatawan.

”Kami berharap masyarakat yang masih mengetahui adanya atraksi gajah tunggang segera melaporkan pada kami. Tak boleh lagi ada gajang tunggang,” tandas Menteri.

Tak Boleh untuk Bantu Bencana

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof Raden Wisnu Nurcahyo mempertanyakan keberadaan gajah untuk membantu membersihkan bencana Sumatra beberapa waktu lalu.

Ada empat gajah Sumatra (Elephamus maximus sumatranus) bernama Abu, Mido, Ajis, dan Noni ikut membantu membersihkan puing-puing pasca banjir bandang di Pidie Jaya, Aceh. Tidak hanya itu, keempat gajah terlatih yang berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar ini juga bekerja menyingkirkan tumpukan kayu dan material berat.

Kehadiran mereka sekaligus menjadi ironi bahwa bencana ekologis yang turut merusak habitat gajah justru membuat satwa tersebut malah terlibat membersihkan sisa-sisa kerusakan di lingkungan yang pada dasarnya juga menjadi ruang hidup mereka.

”Itu sangat berisiko besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan gajah. Kondisi lapangan yang dipenuhi oleh kayu, puing-puing bangunan, material tajam berkarat, hingga hewan yang mati membusuk dapat membawa penyakit-penyakit menular pada gajah,” kritiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *