Catra Budaya

‘Nyadran Agung’ Kulonprogo Pererat Silaturahmi

catrawarta.com — Meski bulan ramadhan sudah diambang pintu, namun kegiatan budaya nyadran masih menghiasai sejumlah daerah. Salah satunya upacara adat Nyadran Agung...

Gunungan berisi hasil bumi dikirab keliling kota.

catrawarta.comMeski bulan ramadhan sudah diambang pintu, namun kegiatan budaya nyadran masih menghiasai sejumlah daerah. Salah satunya upacara adat Nyadran Agung di depan Rumah Dinas Bupati Kulonprogo. Warga tumplek  untuk menghadiri dan menyaksikan tradisi tahunan ini.

Kegiatan tersebut bukan hanya ritual penghormatan leluhur, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antara pemerintah dan warga masyarakat.

Acara dimulai dengan kirab budaya menampilkan deretan gunungan yang berisi hasil bumi. Sejumlah gunungan itu kemudian diarak sebagai simbol kemakmuran Kabupaten Kulonprogo. Prosesi Nyadran Agung ditutup dengan rayahan, yakni warga berebut uba rampe hasil bumi tersebut.

Puncak Syukur

Gunungan, kemudian dilakukan rayahan dan warga saling bertemu menjadi perlambang puncak rasa syukur kepada Tuhan serta simbol kemakmuran. Warga benar-benar merasakan adanya nilai tambah dari kegiatan ini.

Hadir dalam acara tersebut Bupati dan Wakil Bupati Kulonprogo, jajaran Forkopimda, OPD serta warga perantau yang tergabung dalam Paguyuban Bakor PKP dari berbagai kota.

Bupati Kulonprogo Agung Setyawan menekankan, Nyadran Agung bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana mempererat tali silaturahmi antara pemerintah, warga lokal, dan para perantau. 

“Kegiatan ini wujud syukur kita kepada Allah Swt. Kehadiran para warga perantauan dari Jabodetabek dan kota-kota lain menunjukkan, mereka tetap memiliki rasa handarbeni (merasa memiliki) dan cinta terhadap tanah kelahirannya di Kulonprogo,” ujar Bupati

Agung menjelaskan, istilah Nyadran bermakna penghormatan kepada leluhur. Namun, secara sosial, Nyadran Agung memiliki dimensi yang lebih luas, yakni penghapusan sekat-sekat sosial melalui doa bersama.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulonprogo, Joko Mursito menjelaskan, tema besar tahun ini adalah ‘Ketahanan Pangan’. Hal ini tercermin dari isi gunungan yang dikirab oleh BUMD, OPD, hingga seluruh Kapanewon di Kulonprogo.

Dengan sinergi antara tradisi dan pesan fungsional seperti ketahanan pangan, Nyadran Agung 2026 sukses menjadi jembatan antara pelestarian masa lalu dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *