catrawarta.com — Rabu 11 Februari 2026, sekitar pukul 14.30 WIB, suasana halaman Masjid Besar Mataram Kotagede Yogyakarta tampak biasa. Tidak ada hujan. Tidak pula angin kencang. Ketenangan itu mendadak hilang berganti hiruk pikuk karena dahan besar pohon beringin tua yang oleh warga dikenal sebagai Ringin Sepuh Mataram tiba-tiba sempal.
Dahan berukuran besar tersebut menimpa sebuah bangunan kecil, sebuah kendaraan roda dua dan satu unit mobil yang terparkir di halaman masjid. Beruntung, peristiwa itu tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, bagi warga Kotagede, sempalnya beringin berusia ratusan tahun itu bukan kejadian alam biasa.
Lurah setempat, Kaharuddin, menjelaskan secara rasional bahwa rapuhnya pohon diduga kuat disebabkan faktor usia. “Usia pohon ini sudah ratusan tahun. Bagian batang dan dahannya memang mulai lapuk,” ujarnya. Kepala Desa Jagalan itu menambahkan, beberapa waktu lalu bagian lain dari pohon yang sama juga sempat tumbang akibat terpaan angin kencang.
Namun, dalam lanskap budaya Jawa, pohon tua terlebih yang menyimpan sejarah tak pernah berdiri semata sebagai unsur biologis. Ia kerap dipahami sebagai penanda zaman, saksi perjalanan kekuasaan, sekaligus simbol relasi manusia dengan alam dan semesta.
Penasehat spiritual Keraton Yogyakarta, Gus Ari, memandang peristiwa ini dari sudut pandang kultural-spiritual. Menurutnya, Ringin Sepuh Mataram bukan pohon sembarangan. “Pohon ini diperkirakan berusia lebih dari 500 tahun. Ia ditanam sebagai tetenger, penanda berdirinya Kerajaan Mataram Islam di bawah Panembahan Senopati,” tuturnya.
Ia menegaskan, pemaknaan tersebut bukanlah mistik dalam pengertian sempit. “Ini bukan klenik. Ini cara orang Jawa membaca tanda-tanda alam,” katanya. Dalam tradisi ilmu titen, alam dipercaya selalu ‘berbicara’ ketika terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan sosial dan kekuasaan.
Gus Ari menilai bahwa sempalnya dahan beringin tua itu merupakan sebuah perlambang. Bukan sebab langsung dari peristiwa sosial-politik, melainkan cermin kondisi batin kolektif bangsa. “Sejarah Jawa mencatat, sebelum terjadi keguncangan besar, alam sering memberi isyarat. Pohon-pohon tua, bangunan sakral, atau gejala alam tertentu kerap menjadi penandanya,” ujarnya.
Dalam pandangannya, situasi kebangsaan hari ini sedang tidak baik-baik saja. Ketidakpekaan penguasa terhadap penderitaan rakyat, maraknya korupsi, beban hidup masyarakat yang kian berat, serta kekuasaan yang dipraktikkan tanpa amanah, menjadi latar sosial dari kegelisahan itu. “Ketika kekuasaan menjauh dari nilai keadilan dan kebijaksanaan, alam seolah ikut bergerak mengingatkan,” kata Gus Ari.
Bagi masyarakat Jawa, kekuasaan bukan sekadar mandat politik, melainkan amanah kosmis. Ada tanggung jawab kepada rakyat, alam, dan Tuhan. Jika amanah itu diselewengkan, maka hukum semesta diyakini akan bekerja. “Sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa menunjukkan pola itu. Kekuasaan yang dzalim pada akhirnya runtuh, sering diawali tanda-tanda alam,” tambahnya.
Sempalnya Ringin Sepuh Mataram pun menjadi bahan renungan. Di tengah modernitas dan rasionalitas, peristiwa ini mengingatkan bahwa kearifan budaya masih hidup. Alam bukan objek mati, melainkan mitra moral manusia. Ia mengingatkan agar manusi, terutama para pemegang kekuasaan, kembali menata niat, menjaga amanah, dan memuliakan kehidupan bersama.
Hiruk-pikuk memang sudah mereda, namun pesan dari beringin tua itu terus bergema. Kekuasaan yang abai pada keadilan, pada akhirnya, akan diuji baik oleh sejarah, oleh rakyat, dan oleh alam itu sendiri.


Yaqut ‘Melawan’, Ajukan Praperadilan Soal Tersangka Kuota Haji 