Catra Milenia

Obsesi “Bikin Mantan Menyesal”, Norak & Kekanak-Kanakan Dibungkus Motivasi

catrawarta.com — Ada fase aneh dalam budaya anak muda hari ini. Patah hati bukan lagi urusan pribadi, tapi bahan konten. Dari video...

Contoh konten di youtube yang mengglorifikasi wacana membuat mantan menyesal
Contoh konten di Youtube yang mengglorifikasi wacana "membuat mantan menyesal".

catrawarta.comAda fase aneh dalam budaya anak muda hari ini. Patah hati bukan lagi urusan pribadi, tapi bahan konten. Dari video motivasi, thread panjang, sampai caption sok dewasa, semuanya muter di satu ide yang sama—gimana caranya bikin mantan nyesel. Kedengarannya keren, padahal kalau dipikir-pikir, ini cuma obsesi yang dibikin kelihatan bermartabat. Dan jujur saja: norak.

Masalahnya bukan karena orang sedih habis putus. Itu wajar. Yang jadi soal adalah ketika hidup kayak mandek di satu titik, seolah semua pencapaian cuma sah kalau mantan tahu dan bereaksi. Kerja keras bukan buat masa depan, tapi buat pamer. Bahagia bukan karena lega, tapi karena pengin dilihat. Ini bukan move on, ini muter-muter sambil denial.

Kalau ditarik ke psikologi sosial, polanya kelihatan jelas: harga diri masih bergantung ke validasi orang lain, khususnya orang yang sudah nggak milih kita. Putusnya memang sudah kejadian, tapi mentalnya belum benar-benar pisah. Maka muncullah narasi “lihat aku sekarang”, seakan-akan hidup baru bisa dianggap sukses kalau ada penyesalan dari pihak lama. Kekanak-kanakan? Iya. Tapi dibungkus kata-kata motivasi biar kelihatan dewasa.

Mantan Juga tidak Peduli

Sementara satu pihak sibuk membangun versi diri yang “biar dia nyesel”, pihak lain sudah lanjut hidup—kerja, jatuh cinta lagi, capek dengan urusannya sendiri. Tidak semua perubahan kita ditonton, dan lebih sering lagi, tidak semua perubahan itu relevan bagi orang yang sudah pergi. Obsesi ini akhirnya berdiri di ruang hampa: berjuang keras demi reaksi yang tidak pernah datang, dari orang yang bahkan tidak lagi menoleh.

Konten motivasi instan ikut nyuburin ilusi ini. Algoritma senang sama emosi simpel: sakit hati, glow up, lalu menang secara simbolik. Yang rumit dan jujur—kayak ngaku masih peduli, masih luka, masih belum selesai—itu nggak laku. Jadi luka dipelihara, bukan disembuhkan. Yang penting kelihatan kuat, walaupun dalamnya masih ribut.

Yang paling memalukan adalah ketika semua ini disebut “pengembangan diri”. Padahal kalau tujuan hidup masih buat bikin orang lain nyesel, itu bukan berkembang, itu pamer yang canggung. Imajinasi hidupnya pendek banget. Masa depan nggak dibayangin sebagai ruang tumbuh, tapi cuma sebagai alat pembuktian. Seolah-olah tanpa penyesalan mantan, semua usaha jadi nggak ada artinya.

Faktanya, orang yang benar-benar pulih itu jarang ribut. Mereka nggak sibuk update buat sindiran, nggak mikir mantan bakal lihat atau nggak. Bukan karena mereka suci atau bijak banget, tapi karena sudah nggak tertarik. Energinya pindah ke hal yang lebih penting: hidup yang jalan, bukan hidup yang nunggu reaksi.

Pada akhirnya, hidup yang sehat secara emosional tidak diukur dari seberapa keras kita ingin dilihat orang yang sudah pergi. Ia diukur dari keberanian untuk berhenti menoleh ke belakang dan mengakui bahwa tidak semua kehilangan butuh pembuktian. Ada perpisahan yang memang selesai tanpa pemenang, tanpa penyesalan, tanpa drama. Dan justru di situ kedewasaannya diuji: saat seseorang memilih melanjutkan hidup tanpa menjadikan masa lalu sebagai tolok ukur nilai dirinya.

Hidup yang matang tidak butuh saksi dari masa lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *