catrawarta.com — Seni bela diri pencak silat terus berkembang pesat di negeri ini. Apalagi, sejak tahun 2019 UNESCO telah mengakui sebagai warisan budaya tak benda. Oleh karena itu, pencak silat pun harus terus dikembangkan.
Salah satu yang aktif melakukan sosialisasi adalah Paseduluran Angkringan Silat yang selama ini konsisten mengembangkan seni bela diri pencak silat kepada masyarakat, utama genera muda.
Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam X pun memberikan masukan kepada Paseduluran Angkringan agar pelaksanaan kegiatan budaya pencak silat ini perlu disusun dalam kerangka acuan kerja yang jelas. Dengan demikian tujuan, output dan dampaknya bagi masyarakat dapat terukur serta saling menguatkan antara pemerintah dan komunitas.
Selain itu, juga diperkuat dengan kaderisasi dan regenerasi supaya pencask silat tetap lestari dan berdampak luas bagi masyarakat di DIY.
“Kita ingin melalui sosialisasi dan pengenalan seni bela diri pencak silat ini menambah pemahaman literasi budaya,” ujar Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam X saat menerima Paseduluran Angkringan Silat di Gedhong Pare Anom Kompleks Kepatihan.
Ia mendorong perlunya terobosan program yang dapat diwujudkan tanpa sepenuhnya bergantung pada pembiayaan besar. Penyusunan proposal kegiatan yang komprehensif dinilai penting agar program pelestarian pencak silat dapat berjalan berkelanjutan dan mudah disinergikan dengan berbagai pihak.
Selain itu, Wagub DIY menekankan pentingnya tanggung jawab bersama dalam melakukan kaderisasi dan regenerasi. “Upaya ini menjadi kunci agar pencak silat tetap hidup dan diminati. Khususnya oleh generasi muda,” katanya.
Paku Alam X juga berharap pencak bisa lebih dikembangkan sebagai bagian dari literasi dan wisata budaya bagi Provinsi DIY.
Pada kesempatan tersebut, Paseduluran Angkringan Silat melaporkan pelaksanaan Pencak Malioboro Festival (PMF) ke-8 yang diselenggarakan September 2025. Festival tersebut mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan berlangsung sukses meskipun menghadapi sejumlah kondisi force majeure.
Koordinator Paseduluran Angkringan Silat, Suryadi mengaku bersyukur atas dukungan Wagub dan Pemda DIY, sehingga berbagai kegiatan pencak silat selama ini dapat terlaksana dengan baik.
Pihaknya menegaskan komitmen untuk menindaklanjuti keinginan Wagub Paku Alam X terkait penguatan sosialisasi pencak silat sebagai tradisi budaya. Sebab, bagaimanapun, pencak silat bukan sekadar bela diri atau identik dengan kekerasan, melainkan warisan leluhur yang mengajarkan nilai saling asah, saling asuh dan saling menghormati. Sosialisasi budaya menjadi kunci agar nilai-nilai tersebut dipahami secara luas.
Seni bela diri ini mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia, yang kaya dengan filosofi kerja sama, kedisiplinan dan keseimbangan. Perjalanan panjang pencak silat di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peranannya dalam sejarah bangsa, yang mencatatkan pencak silat sebagai bagian penting dari perjuangan dan pendidikan moral.
Tidak terbatas pada satu wilayah saja, pencak silat berkembang pesat di berbagai daerah dengan karakteristik unik, sehingga semakin memperkaya budaya Indonesia.
Seni bela diri pencak silat diperkirakan sudah ada di Indonesia sejak abad ke-7 Masehi. Budaya ini berkembang pesat di Nusantara, khususnya pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, sebagai alat pertahanan diri dan berperang.

Nelayan Pantai Sadeng Uji Coba Perahu Berbasis Baterai 