catrawarta.com — Akhir-akhir ini banyak kasus pelecehan, kekerasan bahkan pembunuhan pada anak-anak. Salah satu penyebabnya, orang tua tak peduli dengan pola asuh anak. Mereka cenderung pasrah dan menyerahkan pola pengasuhan anak pada orang lain missal asisten rumah tangga (ART) atau pihak lain seperti tempat penitipan anak.
Salah satu yang belum lama meledak di Yogyakarta, kekerasan yang terjadi di salah satu tempat penitipan anak. Anak-anak mengalami penyiksaan dan pola asuh yang tidak wajar. Mereka kerap mengalami kekerasan dari para pengasuh.
Hal itu pasti berakibat trauma pada anak. Mereka memerlukan pemulihan, tidak hanya menyangkut kondisi fisik, tetapi juga aspek psikologis. Dosen Program Studi Psikologi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Andhita Dyorita Khoiryasdien menekankan pentingnya deteksi dini sebagai langkah awal pemulihan.
Ia mengungkapkan, orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak. Salah satu tanda yang paling umum adalah regresi, yakni kemunduran kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai anak.
”Misalnya anak yang sudah bisa ke toilet sendiri tiba-tiba kembali ngompol, atau yang sebelumnya lancar berbicara menjadi kesulitan berkomunikasi,” jelas Andhita dikutip dari laman unisa.ac.id.
Alami Banyak Gangguan
Orangtua juga perlu peka ketika anak mengalami gangguan tidur seperti mimpi buruk, berteriak saat tidur atau orang Jawa bilang ngelindur alias mengingau. Bisa pula anak kesulitan beristirahat karena selalu merasa cemas dan takut.
Anak juga bisa menunjukkan perilaku menarik diri dari lingkungan sosial, menjadi lebih agresif, atau memainkan tema kekerasan secara berulang dalam aktivitas bermainnya. Reaksi ketakutan berlebihan, terutama saat berpisah dengan orang tua atau pengasuh terdekatnya di rumah, juga menjadi indikator penting. Ketika tanda-tanda tak wajar muncul, sebaiknya segera dibawa ke profesional, psikolog atau dokter.
Apakah dibawa ke psikolog atau dokter merupakan keharusan?
Andhita mengatakan apabila gejala belum terlihat signifikan, orang tua tetap dapat berperan membantu pemulihan anak. Ia menganjurkan salah satu pendekatan yakni penggunaan media ekspresi nonverbal. Anak dapat diajak menggambar, bermain peran dengan boneka, atau bercerita melalui permainan.
Perlu dipahami, anak-anak belum tentu bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Orang tua bisa membantu menggunakan strategi lain yakni bermain. Misalnya, dari gambar bisa terlihat indikasi emosi, seperti penggunaan warna gelap atau merah yang dominan.
Validasi Emosi Anak
Andhita juga menyarankan langkah lain yang juga penting adalah melakukan validasi emosi. Menurutnya orang tua jangan meremehkan ketakutan atau reaksi emosional anak. Ia memberi saran untuk tidak mengatakan ”jangan bilang, jangan lebay atau ‘tidak apa-apa”.
Sebaliknya, akui perasaan anak, misalnya dengan mengatakan ”kamu takut ya, tidak nyaman ya, tidak apa-apa, ada ibu di sini”. Jadi pola pikir orang tua digeser, bukan kenapa anak susah diatur, rewel, tapi mengapa anak bisa seperti itu.
Saran lain, sentuhan fisik seperti pelukan, usapan, dan kehadiran yang hangat juga berperan besar dalam mengembalikan rasa aman anak. Dalam teori kelekatan (attachment), kedekatan dengan figur yang memberikan rasa aman menjadi kunci regulasi emosi anak.
”Orang tua perlu membantu anak membangun kembali rasa kontrol atas dirinya. Pengalaman kekerasan seringkali membuat anak merasa tidak berdaya. Hal-hal sederhana seperti memberi pilihan, memilih pakaian atau makanan, dapat membantu memulihkan kepercayaan diri anak,” ungkap Andhita.
Proses pemulihan bisa memakan waktu lama. Pemulihan luka batin atau psikis tidak bisa serta merta. Dukungan orang tua, keluarga dan lingkungan sangat berharga bagi pemulihan anak.

