Catra Budaya

Makjun Aceh Makin Langka, Jejak Warisan Panghab Keumire

Panghab Keumire atau Panglima Abdul Wahab asal Gampong Keumire, Aceh Besar, dikenal sebagai tokoh pejuang tiga zaman sekaligus peracik obat tradisional atau...

Panghab keumire atau panglima abdul wahab asal gampong keumire aceh besar dikenal sebagai tokoh pejuang tiga zaman sekaligus peracik obat tradisional atau makjun yang legendaris di aceh
Panghab Keumire atau Panglima Abdul Wahab. (Dok Atjeh Sultanate)

catrawarta.comPanghab Keumire atau Panglima Abdul Wahab asal Gampong Keumire, Aceh Besar, dikenal sebagai tokoh pejuang tiga zaman sekaligus peracik obat tradisional atau makjun yang legendaris di Aceh.

Atas jasa-jasanya dalam perjuangan, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Perintis Kemerdekaan kepada Panghab Keumire pada 1961. Gelar tersebut disematkan oleh Gubernur Aceh Ali Hasjmy yang mewakili Presiden Soekarno.

T.A. Sakti, peminat naskah lama dan sastra Aceh, mengatakan Panghab Keumire terus meramu makjun hingga akhir hayatnya. Makjun merupakan ramuan tradisional yang keberadaannya kini semakin langka di Aceh.

“Makjun termasuk bahan obat yang langka di Aceh. Nyaris semua toko obat, baik yang menjual obat herbal maupun obat modern (medis) di Banda Aceh, tidak menjual makjun. Makjun lebih mudah ditemukan di pasar-pasar Aceh. Ada juga toko yang menjual makjun produksi Malaysia,” kata T.A. Sakti kepada catrawarta.com, Jumat (24/7/2026).

Menurut Sakti, makjun yang diproduksi di Malaysia kemungkinan bersumber dari kitab asal Aceh, Tajul Muluk, karya Syekh Abdullah Ismail Al-Asyi yang disebut ditulis atas anjuran Sultan Mansur Syah yang wafat pada 1870.

Namun, dalam manuskrip Pusaka Hang Tuah, sebuah kitab pengobatan yang diterbitkan di negara bagian Terengganu, Malaysia, pada 1957 dan ditulis menggunakan huruf Arab Jawi, Sakti menyebut tidak ditemukan pembahasan mengenai obat herbal makjun.

Older man sits on a carved wooden couch wearing a blue patterned shirt and a green ring on his finger
T.A. Sakti, peminat naskah lama dan sastra Aceh

Makjun dan Tradisi Masyarakat Aceh

Sakti menceritakan, di kampungnya dahulu hanya ada satu orang yang menjajakan makjun, yakni Teungku Ma’e atau Ismail. Dalam usia lanjut, Teungku Ma’e berjalan dari kampung ke kampung untuk menjual makjun.

Sebagian besar pelanggannya merupakan perempuan berusia di atas 60 tahun.

“Makjun diyakini selain menyehatkan juga membuat panjang umur. Di kampung saya, banyak orang yang berusia panjang, terutama perempuan. Setelah Teungku Ma’e meninggal, tidak ada lagi penjual makjun keliling,” ujarnya.

Ramuan makjun Aceh dibuat dari berbagai jenis rempah dan bahan herbal. Di antaranya lada hitam, jintan hitam, cengkeh, dan pala yang dicampur dengan madu serta minyak kelapa.

Selain itu, ramuan tersebut juga menggunakan puluhan jenis akar, daun, dan empon-empon. Secara tradisional, makjun dipercaya masyarakat sebagai ramuan untuk menjaga kebugaran dan stamina tubuh.

Pernah Populer hingga Luar Aceh

Popularitas makjun Aceh sempat mencapai puncaknya pada era 1980-an. Salah satu produk yang dikenal saat itu adalah Makjun Asyraf asal Banda Aceh.

Produk tersebut bahkan disebut telah dipasarkan hingga Jakarta, Yogyakarta, dan Surakarta. Namun, popularitasnya kemudian meredup beberapa tahun setelahnya.

Salah satu peracik makjun yang dikenal pada era 1980-an, Teungku Mahmud, kini juga tidak lagi memproduksi makjun.

Sakti menilai, tradisi makjun sebagai bagian dari pengetahuan pengobatan tradisional masyarakat Aceh perlu mendapat perhatian lebih serius. Ia menyayangkan belum banyak riset akademik yang mengkaji makjun, termasuk dari sisi sejarah, kandungan bahan, maupun manfaatnya.

Padahal, menurutnya, makjun merupakan bagian dari warisan pengetahuan masyarakat Aceh yang telah lama dikenal sebagai ramuan untuk menjaga stamina dan kebugaran, termasuk dalam konteks sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda.

“Makjun merupakan bagian dari pengetahuan tradisional masyarakat Aceh yang seharusnya dapat diteliti lebih lanjut, baik dari aspek sejarah maupun kandungan herbalnya,” kata Sakti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *