Warta

Tak Ada Jembatan, Warga Gayo Lues Lintasi Sungai dengan Seutas Tali

catrawarta.com — Kadang-kadang muncul pertanyaan benarkah ada daerah yang dianaktirikan? Kalau tidak ada bukti sangat mudah untuk membantahnya. Tetapi bagaimana kalau itu...

Woman in a black hijab and white tunic carries a child on her back while crossing a rope bridge over a shallow river
TALI: Pelajar, warga, guru, harus melintasi jembatan gantung dari seutas tali untuk menyeberang berangkat dan pulang.(Sumber: Instagram clevault.id)

catrawarta.comKadang-kadang muncul pertanyaan benarkah ada daerah yang dianaktirikan? Kalau tidak ada bukti sangat mudah untuk membantahnya. Tetapi bagaimana kalau itu ternyatanya terbukti. Lihat saja nun jauh di pelosok barat Indonesia, di Gayo Lues, Aceh.

Ada apa di sana? Warga – tak peduli anak-anak, remaja, pelajar atau dewasa – harus menyeberangi sungai lebar melalui seutas tali. Tali besar, dalam bahasa Jawa istilahnya dadung, terlentang dari ujung daratan ke ujung daratan di seberangnya.

Tali dibentangkan dengan bantuan beberapa bilah bambu agar bisa kuat menahan injakan kaki pelintas. Seseorang ketika akan melintas harus naik tangga terlebih dulu kemudian berpegangan pada tali di bagian atas, lalu berjalan dengan tenang.

Keseimbangan harus benar-benar terjadi karena yang menjadi pijakan yang seutas tali. Ya, hanya seutas tali untuk tumpuan kaki. Badan tentu bergoyang karena penyangga hanya bilah-bilah bambu, apalagi kalua angin bertiup kencang. Cara yang sama sekali tidak aman untuk menyeberangi sungai.

Namun mau bagaimana lagi, mereka harus beraktivitas, bersekolah di seberang sungai. Jalan pintas paling cepat melalui jembatan tali gantung tersebut.

Jembatan Rusak Parah

Pemandangan itu menurut akun Instagram @suaraakarrumput dan @medankekinian terjadi di Desa Pendawi, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Jembatan utama hanyut diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu dan badan jalan mengalami kerusakan. Warga serta para pelajar harus menggunakan jembatan tali darurat sebagai satu-satunya akses penghubung.

Enam desa dilaporkan masih terisolasi selama berbulan-bulan. Dengan keterbatasan yang ada, warga secara swadaya membangun jalur darurat agar aktivitas, termasuk akses pendidikan, tetap berjalan.

Warga berharap pemerintah segera mempercepat pemulihan infrastruktur agar anak-anak tidak lagi harus menghadapi risiko saat menuju sekolah.

Bukan hanya siswa, guru juga harus melintasi jembatan tali untuk berangkat mengajar. Tampak dalam rekaman, seorang guru perempuan menggendong anak kecil naik ke tangga kemudian menyeberangi sungai melalui jembatan gantung seutas tali.

Kecaman dari Masyarakat

Kondisi nyata tersebut mendapat banyak komentar dari masyarakat yang menyaksikannya. Mereka mengecam keras kelambanan dan kelalaian pemerintah menyediakan fasilitas untuk masyarakat.

Bahkan banyak yang berkomentar banyak uang digelontorkan untuk MBG tetapi penanganan fasilitas publik sangat lamban. Jadi, wajar kalua kemudian muncul suara-suara sumbang Aceh dianaktirikan.

”Presiden malah minta membangun rumah hakim, hakim sudah kaya mau dikasih rumah biar gak korupsi, gaji sudah di naikin 200% lebih, korupsi sudah tradisi pejabat, fasilitas umum yg seharusnya hak rakyat malah pura-pura buta”, tulis akun @masjek_banyuwangi.

Ada pula yang menuliskan ”Pak Presiden paham kan, ini loh yang dibilang Indonesia suram, karna untuk pendidikan saja harus bertaruh nyawa”. Begitu tulis akun @aris_swazticka.

”Astagfirullah.. semoga ada bantuan dr pihak manapun utk membantu membuat jembatan.. ngeri ngeliatnya juga .. pemerintah dzolim dg rakyatnya.. Prabowo ga takut apa dg siksa kubur dan siksa api neraka.. naudzubillah”, tulis akun @nanie.fadia dalam komentarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *