Warta

Amerika Serikat Menabuh Genderang Perang, Iran Tak Gentar Melawan!

catrawarta.com — PERDAMAIAN Amerika Serikat dan Iran tak ada seumur jagung. Kedua negara kembali terlibat perang setelah Presiden Amerika Serikat memanas-manasi situasi....

Man in a dark suit sits in an ornate gold chair gesturing with his hands while speaking in an elegant room
BEBAN: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan beban Amerika Serikat makin berat setelah kembali menyerang negaranya.(Sumber: IRNA)

catrawarta.comPERDAMAIAN Amerika Serikat dan Iran tak ada seumur jagung. Kedua negara kembali terlibat perang setelah Presiden Amerika Serikat memanas-manasi situasi. Usai melakukan penyerangan lagi ke Iran, perang tak bisa dihindari. Iran melakukan balasan menyerang ke sejumlah fasilitas AS yang ada di negara teluk.

Kantor berita Iran, IRNA melaporkan tentara Iran atau Islamic Revolution Guards Corps (IRGC) telah mengumumkan serangan balasan terhadap fasilitas militer AS sebagai tanggapan atas serangan ke negaranya. Utamanya yang terjadi di perlintasan perbatasan Shalamcheh, sebuah rute yang digunakan oleh para peziarah Arbaeen.

Garda Revolusi mengecam serangan awal AS dan menyebutnya sebagai tindakan kekejaman yang luar biasa. Operasi balasan tersebut melibatkan serangan terkoordinasi terhadap Camp Udairi di Kuwait.

Menurut IRGC, operasi itu berhasil menghancurkan unit peperangan elektronik khusus milik AS, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di kalangan personel yang ditempatkan di fasilitas tersebut. Selain itu, menara kendali penerbangan pangkalan juga terkena serangan, menyebabkan kerusakan struktural yang signifikan.

IRGC menegaskan bahwa tindakan hukuman terhadap target-target militer AS masih terus berlangsung, mereka tak akan menghentikan serangan.

Upaya Gencatan Senjata

Pernyataan Garda Revolusi menyatakan bahwa AS telah kalah di medan perang, sedang mengupayakan negosiasi dan gencatan senjata yang penuh tipu daya demi memulihkan kekuatannya. Mereka bersiap mengisi kembali pasokan bahan bakar dan amunisi, serta melancarkan serangan kembali.

Musuh Iran harus menanggung akibat dari itikad dan tindakan buruknya melakukan serangan. Garda Revolusi menolak segala bentuk jeda perang.

Menurut IRGC, setelah menghabiskan persediaan rudal jelajah laut di Samudra Hindia, AS mengerahkan pesawat pengebom B-1 dari pangkalan RAF Fairford di Inggris untuk serangan terbarunya. Karena itu, Iran menegaskan pangkalan mana pun yang memfasilitasi agresi terhadap wilayah Iran menjadi target militer yang sah.

Sementara itu, Markas Besar Pusat untuk ziarah Arbaeen juga mengeluarkan pernyataan mengecam serangan AS yang keji dan pengecut terhadap perlintasan perbatasan Shalamcheh. Meskipun mendapatkan serangan, mereka memastikan keamanan tetap terjaga dengan kuat di seluruh titik perbatasan.

Markas besar memperingatkan musuh bahwa provokasi yang sia-sia semacam itu hanya akan memperkuat tekad masyarakat untuk berpartisipasi dalam ziarah Arbaeen dengan semangat yang lebih besar lagi.

Arbaeen menandai hari ke-40 setelah peringatan kesyahidan Imam Hossein (as) dan akan jatuh pada tanggal 4 Agustus 2026. Para peziarah dari seluruh penjuru Iran telah memulai perjalanan mereka menuju Provinsi Khuzestan, yang berbatasan dengan Irak.

Dari sana, mereka akan melintasi perbatasan menuju negara tetangga tersebut dan melanjutkan ziarah ke Kota Suci Karbala, tempat makam Imam Hossein berada.

Kecam Tindakan AS

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi juga mengeluarkan kecaman keras pada pihak-pihak tertentu di dalam pemerintahan AS karena mengabaikan kenyataan di lapangan. Pihak itu mendorong kebijakan yang justru akan meningkatkan biaya bagi tercapainya kesepakatan damai.

Dalam sebuah unggahan di platform X, Araghchi menulis, ”Oknum-oknum tertentu di pemerintahan AS bersikap menutup mata terhadap kenyataan. Mereka mengabaikan realitas di lapangan dan tampaknya hanya berfokus pada tahun 2028. Agresi gegabah yang mereka usung hanya akan memastikan Presiden AS harus menanggung konsekuensi yang lebih berat demi kesepakatan yang ingin ia capai.

Pernyataan ini disampaikan menyusul agresi ilegal AS-Israel terhadap Iran serta upaya berkelanjutan terkait Nota Kesepahaman Islamabad, yang bertujuan mengakhiri permusuhan dan memulihkan stabilitas di kawasan tersebut, termasuk di Selat Hormuz.

Komentar Araghchi menegaskan sikap tegas Teheran, segala bentuk tindakan nekad lebih lanjut hanya akan mempersulit diplomasi dan membebankan biaya yang lebih besar bagi Washington. Perang sudah dimulai kembali di tengah upaya perdamaian yang ”gagal”.

Ancaman krisis global, utamanya krisis energi masih akan terus berlanjut karena situasi yang sangat tidak kondusif perairan Iran terutama Selat Hormuz.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *