Warta

Kemenkes: Obesitas Anak Meningkat, Hipertensi Muncul Sejak SD

Proporsi anak dengan gizi lebih dan obesitas kini semakin mendekati angka gizi kurang.

Proporsi anak dengan gizi lebih dan obesitas kini semakin mendekati angka gizi kurang
Ilustrasi anak obesitas. (dok Magnific)

catrawarta.comHasil pemeriksaan dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan yang dilakukan bertepatan dengan tahun ajaran baru menunjukkan perubahan pola masalah kesehatan pada anak dan remaja di Indonesia.

Temuan tersebut menunjukkan kondisi kesehatan anak tidak lagi didominasi oleh gizi kurang. Proporsi anak dengan gizi lebih dan obesitas kini semakin mendekati angka gizi kurang, menandakan Indonesia menghadapi double burden of malnutrition atau beban ganda masalah gizi, yakni gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan.

Selain itu, peningkatan tekanan darah mulai banyak ditemukan pada anak usia sekolah dasar hingga remaja tingkat SMA.

Pada kelompok usia sekolah dasar, masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah karies gigi. Temuan tersebut diikuti peningkatan tekanan darah, gangguan status gizi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.

Memasuki kelompok usia SMP, masalah kesehatan gigi masih menjadi temuan terbanyak. Namun, pada kelompok ini mulai terlihat peningkatan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, disertai meningkatnya risiko tuberkulosis (TB), peningkatan tekanan darah, dan gangguan gizi.

Sementara pada kelompok siswa SMA, pola tersebut semakin menguat. Karies gigi tetap menjadi masalah utama, diikuti peningkatan tekanan darah, gangguan kesehatan mental, risiko TB, serta persoalan gizi yang menunjukkan proporsi hampir seimbang antara gizi kurang dan obesitas.

Secara keseluruhan, pada kelompok anak sekolah dan remaja, karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan dengan prevalensi lebih dari 40 persen peserta yang diperiksa.

Ilustrasi pengecekan tekanan darah
Ilustrasi pengecekan tekanan darah. (dok Magnific)

Temuan berikutnya adalah anemia sebesar 27 persen, peningkatan tekanan darah sebesar 21 persen, penumpukan kotoran telinga sebesar 7 persen, serta gizi lebih dan obesitas sebesar 7 persen.

Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan kesehatan melalui Program CKG, mulai dari bayi hingga lansia. Angka tersebut telah melampaui target mingguan yang ditetapkan pemerintah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan temuan tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk menyusun intervensi kesehatan yang lebih spesifik sesuai kelompok usia.

“Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA. Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif,” kata Budi dalam keterangan tertulis, Jumat (17/7/2026).

Program CKG merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang telah berjalan sejak 2025.

Pada tahun pertama pelaksanaannya, penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus menjadi temuan yang paling dominan dalam pemeriksaan kesehatan masyarakat.

Memasuki 2026, program CKG mulai memasuki tahap tata laksana atau pengobatan bagi peserta yang telah terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.

Pemerintah menargetkan sebanyak 130 juta penduduk Indonesia mengikuti pemeriksaan kesehatan melalui Program CKG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *