Warta

Kemarau Meluas, BMKG Waspadai Krisis Air dan Gagal Panen

BMKG) melaporkan sebanyak 48,9 persen wilayah Indonesia atau setara 342 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.

Bmkg melaporkan sebanyak 489 persen wilayah indonesia atau setara 342 zona musim zom telah memasuki musim kemarau
Hasil monitoring pada Dasarian I Juli 2026 BMKG menunjukkan Indonesia memasuki puncak musim kemarau. (dok BMKG)

catrawarta.comBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebanyak 48,9 persen wilayah Indonesia atau setara 342 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau yang ditandai dengan meningkatnya jumlah hari tanpa hujan.

Luas wilayah yang mengalami musim kemarau juga terus bertambah, meningkat sekitar 11,3 persen dibandingkan periode dasarian sebelumnya. Dalam istilah BMKG, dasarian merupakan periode pengamatan cuaca selama 10 hari yang dibagi menjadi tiga bagian dalam setiap bulan.

BMKG mencatat terdapat 329 titik pengamatan atau sekitar 6,77 persen dari total stasiun pemantau cuaca yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan durasi antara 31 hingga 60 hari berturut-turut.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan meteorologis yang berpotensi memicu krisis air bersih serta mengganggu sektor pertanian akibat ancaman gagal panen.

Laporan BMKG, Selasa (14/7/2026) juga mencatat indeks El Nino yang cukup kuat turut berkontribusi terhadap menguatnya musim kemarau kering di Indonesia tahun ini.

Pada periode Juli dasarian II hingga Agustus dasarian I 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan didominasi curah hujan kategori rendah hingga menengah, yakni berkisar antara 0 hingga 150 milimeter per dasarian.

Wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan rendah meliputi hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *