Catra Budaya

Asal Usul Tanjidor Betawi dari Portugis

Musik Tanjidor selama ini identik dengan budaya Betawi, namun aslinya dari Portugis.

Musik tanjidor selama ini identik dengan budaya betawi Namun jika ditelusuri dari sejarahnya kesenian musik ini memiliki akar kuat dari tradisi portugis
Grup musiik Tanjidor Sanggar Putra Mayangsari Cijantung, Jakarta Timur. (dok Sanggar Putra Mayangsari Cijantung)

catrawarta.comMusik Tanjidor selama ini identik dengan budaya Betawi. Namun, jika ditelusuri dari sejarahnya, kesenian musik ini memiliki akar kuat dari tradisi Portugis yang dibawa ke Nusantara pada masa kolonial.

Pemimpin Sanggar Putra Mayangsari Cijantung, Jakarta Timur, Sofyan Mardianta, menjelaskan bahwa istilah Tanjidor diyakini berasal dari kata Portugis tangedor yang berarti alat-alat musik berdawai. Dalam perkembangannya, Tanjidor dikenal sebagai perpaduan alat musik tiup dan perkusi yang memiliki karakter khas.

“Musiknya mirip marching band, tetapi yang membedakan adalah alat perkusinya. Bass drum dan tambur pada Tanjidor menggunakan kulit kambing, sedangkan marching band memakai mika,” ujar Sofyan, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, penggunaan kulit kambing pada bass drum dan tambur menghasilkan variasi bunyi yang lebih kaya dibandingkan alat perkusi modern.

Di kalangan masyarakat Betawi sendiri, ada pula anggapan bahwa nama Tanjidor berasal dari musik Tanji, kesenian tradisional Jawa Barat yang berkembang di wilayah Karawang, Subang, dan Sumedang. Musik Tanji memadukan alat musik tiup dan pukul bergaya Eropa dengan lagu-lagu tradisional Sunda.

Grup musik tanjidor sanggar putra mayangsari cijantung jakarta timur sudah ada sejak 1948 dok sanggar putra mayangsari
Grup musik Tanjidor Sanggar Putra Mayangsari Cijantung, Jakarta Timur sudah ada sejak 1948. (dok Sanggar Putra Mayangsari)

“Saat memainkan musik Tanji, ketika dipukul bunyinya ‘dor’. Mungkin dari situ muncul istilah Tanjidor,” kata Sofyan sambil tertawa.

Meski demikian, ia meyakini bahwa akar utama Tanjidor tetap berasal dari tradisi musik Portugis.

Membawakan Lagu Eropa hingga Betawi

Dalam pertunjukannya, grup Tanjidor memainkan berbagai repertoar, mulai dari lagu-lagu Eropa klasik seperti mars, waltz, dan polka hingga lagu-lagu Portugis dan Belanda.

Selain itu, sejumlah lagu Betawi populer juga menjadi bagian dari sajian Tanjidor, seperti Jali-Jali, Sirih Kuning, Kicir-Kicir, dan Surilang.

“Kami juga sering membawakan lagu-lagu almarhum Haji Benyamin Sueb,” ujar Sofyan.

Secara historis, musik Tangedor digunakan untuk mengiringi barisan tentara serta berbagai jamuan resmi yang dihadiri para pejabat kolonial.

Warisan Keluarga Tiga Generasi

Sofyan merupakan generasi ketiga keluarganya yang aktif melestarikan musik Tanjidor. Kisah ini bermula dari sang kakek, Nyaat bin Jaim, yang lahir pada 1916 dan mulai belajar musik Tanjidor pada usia 10 tahun.

Pada masa itu, masyarakat pribumi banyak bekerja sebagai pelayan dalam berbagai acara yang diselenggarakan pemerintah kolonial. Dari sanalah Nyaat mengenal musik Tangedor dan mulai mempelajarinya.

Menurut Sofyan, seorang mandor pribumi kepercayaan Belanda bernama Miming menjadi orang yang pertama kali mengenalkan musik tersebut kepada kakeknya.

”Belajarnya belum tuntas ketika bangsa Portugis sudah meninggalkan Batavia. Akhirnya kakek belajar secara otodidak dengan mendengarkan lalu mengulik sendiri musiknya,” tutur Sofyan.

Ketika para kolonialis meninggalkan Batavia, sejumlah alat musik tidak ikut dibawa sehingga kemudian dimainkan oleh masyarakat setempat. Nyaat terus menekuni musik tersebut dan secara bertahap mengumpulkan alat-alat musik aslinya.

Pada 1948, ia mendirikan Sanggar Putra Mayangsari Cijantung yang hingga kini masih aktif melestarikan Tanjidor.

Estafet kepemimpinan sanggar kemudian berlanjut kepada generasi berikutnya hingga akhirnya diteruskan oleh Sofyan “Setelah bapak meninggal, saya yang meneruskan sampai sekarang,” katanya.

Bahkan, Sofyan telah menyiapkan regenerasi melalui putranya, Ega Arfian Sandi, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang bergelar Sarjana Seni Musik.

“Kalau saya sedang di luar kota, anak saya yang mengoordinasikan pertunjukan. Saya sudah mulai melibatkan dia dalam pengelolaan sanggar,” ujarnya.

Komposisi Alat Musik Tanjidor

Sebuah grup Tanjidor umumnya terdiri atas sembilan pemain dengan kombinasi alat musik tiup dan perkusi.

Alat musik tiup meliputi klarinet, piston (terompet), sousaphone, trombon, tuba, dan bariton. Sementara alat musik perkusinya terdiri atas bass drum, snare drum, dan simbal.

Selain itu, terdapat alat musik tambahan berbentuk segitiga yang disebut panil atau triangle, terbuat dari logam yang menghasilkan bunyi dentingan khas.

“Zaman dulu alat ini dibuat dari bekas per mobil yang dipotong dan dibentuk segitiga. Biasanya digunakan untuk melatih ketukan dasar,” jelas Sofyan.

Sebagai pemimpin sanggar, Sofyan juga aktif memainkan alat perkusi, meskipun ia mengaku menguasai seluruh instrumen yang digunakan dalam grup Tanjidor.

Tanjidor di Berbagai Daerah

Para pemain tanjidor mengenakan busana sadariah dok sanggar putra mayangsari cijantung
Para pemain Tanjidor mengenakan busana sadariah. (dok Sanggar Putra Mayangsari Cijantung)

Menurut Sofyan, kesenian serupa Tanjidor dapat ditemukan di sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa Barat. Namun bentuk maupun instrumen yang digunakan sudah mengalami banyak penyesuaian.

“Di Kalimantan alat musiknya kebanyakan produksi modern dan lagu-lagunya berirama dangdut. Di Jawa Barat ada tambahan kenong, kecrek, bahkan kendang seperti di Karawang,” katanya.

Ia menilai Tanjidor di Jakarta masih mempertahankan bentuk yang paling mendekati warisan aslinya. Karena itu, Tanjidor kemudian menjadi identitas budaya Betawi yang terus dijaga masyarakat setempat.

Bertahan di Tengah Tantangan Ekonomi

Selain musiknya, para pemain Tanjidor juga memiliki busana khas. Jika dahulu menggunakan jas ala Eropa karena tampil di hadapan pejabat kolonial, kini mereka lebih sering mengenakan pakaian adat Betawi berupa baju sadariah, peci, celana panjang, dan sarung.

Namun di balik eksistensinya, Tanjidor menghadapi tantangan besar, terutama persoalan ekonomi dan regenerasi.

“Dulu grup Tanjidor sangat banyak. Sekarang tinggal beberapa yang bertahan. Penyebab utamanya ekonomi dan sulitnya regenerasi,” ujar Sofyan.

Ia menjelaskan bahwa penghasilan dari pementasan tidak cukup untuk menjadi sumber nafkah utama.

“Misalnya sekali tampil pemain mendapat Rp300 ribu. Kalau dalam sebulan hanya lima kali tampil, penghasilannya sekitar Rp1,5 juta. Itu tidak cukup untuk menghidupi keluarga,” katanya.

Karena itu, seluruh anggota Sanggar Putra Mayangsari memiliki pekerjaan utama di luar dunia seni dan hanya bermain musik ketika ada undangan pertunjukan.

Kebangkitan Berkat Si Doel

Di tengah menurunnya jumlah grup Tanjidor, Sofyan mengaku terbantu oleh popularitas sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang dibintangi Rano Karno.

Terompet helicon sousaphone dikenal sebagai terompet atun turut memperkenalkan tanjidor kepada generasi muda dok dinas kebudayaan dki jakarta
Terompet Helicon (sousaphone) dikenal sebagai “terompet Atun” turut memperkenalkan Tanjidor kepada generasi muda. (dok Dinas Kebudayaan DKI Jakarta)

Menurutnya, kemunculan Tanjidor dalam sinetron tersebut berhasil mengingatkan masyarakat Betawi terhadap kesenian tradisional yang mulai terlupakan.

“Saat itu Bang Rano meminjam peralatan musik dari kami. Kehadiran Tanjidor di Si Doel membuat masyarakat kembali mengenal musik ini,” ujarnya.

Bahkan salah satu adegan ikonik ketika tokoh Atun terjepit terompet Helicon atau sousaphone yang kemudian dikenal sebagai “terompet Atun” turut memperkenalkan Tanjidor kepada generasi yang lebih muda.

Dorong Masuk Kurikulum Sekolah

Menjelang peringatan lima abad Jakarta, Sofyan berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap pelestarian Tanjidor.

Salah satu usulan yang ia ajukan adalah memasukkan Tanjidor ke dalam kurikulum pendidikan atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.

“Anak-anak bisa belajar musik tradisional melalui pelajaran kesenian atau ekstrakurikuler, dan kami siap menjadi pengajarnya,” katanya.

Selain itu, ia juga berharap adanya dukungan untuk peremajaan alat musik yang harganya relatif mahal.

“Terakhir kami mendapat bantuan pembelian terompet dari Pemprov pada 1993. Setelah itu belum ada lagi. Padahal untuk membeli satu set alat musik lengkap bisa membutuhkan biaya ratusan juta rupiah,” ujarnya.

Menurut Sofyan, pelestarian Tanjidor tidak cukup hanya melalui festival atau pertunjukan sesaat. Dukungan pendidikan dan ruang tampil yang lebih banyak menjadi kunci agar kesenian warisan budaya ini tetap hidup di tengah masyarakat Jakarta.

“Kalau ingin Tanjidor tetap lestari, masukkan ke sekolah dan perbanyak kesempatan tampil bagi para pemainnya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *