catrawarta.com — Unggahan Pemadam Kebakaran Kota Yogyakarta menuai beragam komentar di media sosial. Mereka meminta maaf karena harus melakukan filter kuat Ketika menerima laporan masyarakat. Hal itu diduga akibat terbatasnya anggaran dan efisiensi.
Dalam unggahannya Damkar menulis,”mulai hari ini kami mohon maaf yang paling dalam. Kami harus memberlakukan pemfilteran laporan masyarakat yang lebih ketat”.
Dituliskan pula, mereka harus memastikan bahwa setiap unit yang keluar dari gerbang markas, benar-benar meluncur untuk situasi yang sifatnya darurat (emergency) demi efisiensi pertolongan yang tepat sasaran.
”Tapi warga Jogja, tolong jangan pernah merasa ditinggalkan,” tulis unggahan Damkar dalam akun instagramnya.
Selama ini, Damkar memang gerak cepat alias gercep ketika menerima laporan masyarakat. Bukan hanya soal kebakaran tetapi banyak hal. Misal kucing terjebak di plafon rumah, anjing tercebur sumur, ular di dapur, anak terperosok bahkan ada yang minta ditemani perjalanan pulang karena rumah jauh.
Respons dan jawaban Damkar itulah yang membuat simpati masyarakat. Mereka selalu ada setiap saat warga membutuhkan. Kini, menurut mereka, kondisi sedikit berbeda akibat efisiensi anggaran. Kendati demikian, mereka tetap akan bersama warga.
Jawaban Wali Kota
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo memberi tanggapan atas unggahan Damkar. Ia memberi penegasan tidak ada masalah dengan anggaran Damkar. Menurutnya, apabila masyarakat memerlukan kedaruratan, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Damkar atau instansi lainnya akan bergerak cepat.
Meskipun dalam kondisi dinamika ekonomi yang fluktuatif, ia menekankan segala hal yang sifatnya mendesak, penting, dan menyangkut kebutuhan wajib, harus diutamakan. Pemerintah tidak akan mengesampingkan warga yang memerlukan bantuan.
Hasto menambahkan, Pemerintah Kota Yogyakarta juga telah menyediakan anggaran untuk mengatasi berbagai persoalan termasuk yang ada dalam Damkar. Ada skema Belanja Tidak Terduga yang jumlah cukup besar.
”Kita punya dana untuk kedaruratan. Belanja Tidak Terduga (BTT) kita bahkan lebih dan tidak seluruhnya terserap. Tahun ini nilainya sekitar Rp 35 miliar. Itu anggaran cadangan yang dipakai untuk hal-hal tidak terduga,” papar Hasto seperti dikutip dari jogja.indozone.id.

