Catra Budaya

Sutirman Eka Ardhana Tersesat di Malioboro dan Menemukan Sastra

Kota Yogyakarta telah lama dikenal sebagai kawah candradimuka bagi para penyair, novelis, dan sastrawan Indonesia.

Portrait of an older man with glasses and a gray beard wearing a checkered flat cap green jacket and purple shirt indoors
Sutirman Eka Ardhana (dok Sutirman Eka Ardhana)

catrawarta.comKota Yogyakarta telah lama dikenal sebagai kawah candradimuka bagi para penyair, novelis, dan sastrawan Indonesia. Banyak nama besar lahir dan tumbuh dari atmosfer kesenian kota ini, termasuk sastrawan Sutirman Eka Ardhana.

Pria kelahiran Bengkalis, Riau, 27 September 1952 itu datang ke Yogyakarta pada akhir 1971. Awalnya, sang ibu berharap ia kelak menjadi pegawai bank. Bahkan teman-temannya mendorongnya mengambil jurusan akuntansi. Namun, Yogyakarta justru membawanya ke jalan hidup yang berbeda: sastra.

“Saat masuk Yogyakarta, atmosfer sastra mulai memengaruhi saya. Terasa hidup, seru, dan menggoda, terutama di kalangan anak-anak muda yang mulai menyukai sastra,” kata Sutirman, Minggu (14/6/2026).

Perjalanan kepenulisannya tak bisa dilepaskan dari Persada Studi Klub (PSK), komunitas sastra legendaris yang diasuh Umbu Landu Paranggi dan difasilitasi koran Mingguan Pelopor Yogya.

“Saya banyak belajar di Persada Studi Klub yang markasnya berada di bawah kantor redaksi Pelopor Yogya di Jalan Malioboro. Hampir setiap malam saya bertemu teman-teman penyuka sastra di sana, bahkan sering begadang hingga larut malam,” ujarnya.

PSK berdiri pada 5 Maret 1969 dan aktif hingga 1977. Komunitas ini melahirkan banyak nama besar dalam sastra Indonesia, di antaranya Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, Iman Budhi Santosa, dan Ragil Suwarna Pragolopati.

Cover of a poetry collection by sutirman eka ardhana titled amuk kenang with white scribble drawings above a grayscale profile of a man wearing a cap and glasses and a tonggak pustaka logo visible on the upper right
Kumpulan puisi Amuk Kenang. (dok Sutirman Eka Ardhana)

Sutirman mengaku banyak belajar di Persada Studi Klub, mulai dari teknik menulis hingga memahami dunia sastra melalui diskusi bersama sesama anggota komunitas.

“Intinya, banyak pengetahuan tentang sastra dan kepenulisan yang saya peroleh dari komunitas itu,” katanya.

Selama puluhan tahun berkarya, Sutirman menulis cerpen, puisi, novel, hingga cerita bersambung. Baginya, menulis bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari kehidupan.

“Kalau saya tidak menulis, saya merasa kosong. Ada yang kurang dalam kehidupan,” ujarnya.

Penulis novel Dendang Penari itu meyakini sastra memiliki fungsi penting untuk berbagi pengalaman dan nilai-nilai kehidupan kepada pembaca.

“Dengan menulis atau bersastra, kita bisa berbagi banyak hal kepada orang lain tentang pelajaran hidup, arti dan makna kehidupan, serta berbagai hal lainnya,” katanya.

Sastra Digital dan Tantangannya 

Membandingkan dunia sastra era 1970-an dengan masa kini, Sutirman melihat perkembangan sastra Indonesia berlangsung sangat pesat. Tema-tema yang diangkat semakin beragam dan mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

“Gaya penulisan semakin beragam dan tema-temanya telah menyentuh berbagai warna kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital memberikan dampak ganda bagi dunia sastra. Di satu sisi, teknologi membantu memperluas jangkauan karya sastra dan menarik minat generasi muda untuk membaca maupun menulis.

“Media digital telah membantu perkembangan sastra masuk ke kehidupan anak-anak muda, mempromosikan karya sastra, dan memengaruhi mereka untuk menyukai dunia kepenulisan,” katanya.

Di sisi lain, kemudahan teknologi juga berpotensi mengurangi kedalaman proses kreatif.

“Kecenderungan yang muncul, semangat untuk mendalami objek penulisan menjadi berkurang. Penghayatan terhadap tema dan persoalan yang ingin disajikan juga bisa berkurang atau bahkan dilupakan. Ada kecenderungan media digital mendorong orang menulis secepat-cepatnya, meskipun tanpa roh di dalamnya,” ujarnya.

Sutirman melihat media sosial juga mendorong sebagian orang untuk ingin cepat dikenal sebagai penulis atau sastrawan. Meski demikian, ia memandang fenomena tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

“Siapa pun, baik muda maupun tua, punya hak untuk membangun eksistensi dirinya,” katanya.

Mencari Kebenaran dan Keindahan 

Dalam setiap karya, baik novel maupun cerpen, Sutirman mengaku selalu berusaha mencari kebenaran, keindahan, dan pemahaman tentang manusia serta kehidupan.

Book cover with teal gradient two monochrome faces in the background a small domed building in the foreground and the title'Surau Tercinta'.
Surau Tercinta menjadi novel yang paling berkesan. (dok Sutirman Eka Ardhana)

Saat ditanya judul yang tepat jika hidupnya ditulis menjadi sebuah novel, ia spontan menjawab, Tersesat di Malioboro.

Alasannya sederhana. Jika dahulu ia tidak sering berkumpul di Persada Studi Klub dan menghabiskan malam-malam di Malioboro bersama para pecinta sastra, mungkin jalan hidupnya akan berbeda.

“Mungkin saya akan memilih kesukaan yang lain. Saya menyebutnya tersesat karena jalan hidup saya bergeser dari cita-cita semula. Dulu almarhumah ibu berharap saya bekerja sebagai pegawai bank,” ujarnya sambil tertawa.

Hingga kini, Sutirman tetap aktif menulis. Sejumlah novelnya antara lain Dendang Penari, Maaf Aku Terpaksa Jadi Pelacur, dan Surau Tercinta. Sementara karya terbarunya adalah kumpulan puisi Amuk Kenang.

Dari seluruh karyanya, Surau Tercinta menjadi novel yang paling berkesan. Novel tersebut banyak dijadikan bahan penelitian dan skripsi mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.

“Itu yang membuat saya merasa novel tersebut memiliki kehidupan yang panjang setelah diterbitkan,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *