catrawarta.com — Nama Bimo Wiwohatmo dikenal sebagai koreografer yang memiliki pendekatan berbeda dalam dunia tari. Karya-karyanya tidak hanya bertumpu pada gerak tubuh, tetapi juga memadukan unsur seni rupa, pencahayaan, kostum, hingga tata panggung menjadi satu kesatuan visual.
Menariknya, perjalanan Bimo di dunia tari bermula dari sebuah “keblasuk” atau tersesat. Awalnya, ia justru menekuni seni rupa saat bersekolah di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Yogyakarta, yang kini menjadi SMK Negeri.
“Saya masuk dunia tari itu keblasuk,” kata Bimo Wiwohatmo, Sabtu (13/6/2026).
Saat masih sekolah, Bimo beberapa kali mengalami kendala menjelang ujian kenaikan kelas, mulai dari kecelakaan hingga menjalani operasi usus buntu. Kondisi itu membuatnya harus menunda ujian hingga tahun berikutnya.
Karena memiliki banyak waktu luang, ia kemudian sering berkunjung ke Padepokan Bagong Kussudiardja yang saat itu baru berdiri.
“Saya datang ke sana dan bertemu Pak Bagong. Saat itu beliau sedang melatih mahasiswa ASTI. Ada Didik Nini Thowok dan teman-teman lainnya yang sedang berlatih. Jujur saja, waktu itu saya tidak tertarik karena melihat laki-laki menari dengan gerakan yang menurut saya terlalu gemulai,” ujarnya sambil tertawa.

Meski demikian, Bimo terus datang ke padepokan dan perlahan mulai belajar tari. Setelah enam bulan belajar, Bagong Kussudiardja menanyakan rencananya setelah selesai nyantrik.
“Saya bilang mau kembali ke SSRI. Tapi Pak Bagong justru mengatakan, kalau mau melukis bisa dilakukan di sini. Tubuhmu itu tubuh penari,” kenang Bimo.
Ucapan tersebut membekas dalam ingatannya dan mengubah arah hidupnya. Dari seorang pelajar seni rupa, Bimo kemudian memilih menekuni dunia tari secara serius hingga menjadi koreografer dan pelatih tari.
Lahirnya Tari Blek Dit Dot
Perjalanan kreatif Bimo semakin berkembang ketika ia harus membuat karya tari untuk ujian di padepokan. Saat itu ia mengaku tidak memiliki ide sama sekali. Di tengah kebingungan, ia memilih beristirahat di luar ruang latihan sambil mencari inspirasi. Dari situ lahirlah sebuah karya tari anak-anak berjudul Blek Dit Dot pada 1984.
Tarian tersebut menggunakan iringan musik sederhana dari benda-benda sehari-hari seperti kaleng, piring, dan tutup kaleng. Dalam prosesnya, ia dibantu oleh Djaduk Ferianto dan Butet Kertaradjasa.
“Tarian itu ternyata mendapat respons yang baik. Pak Bagong kemudian meminta saya mengajarkannya kepada pelajar dari negara-negara ASEAN yang sedang belajar di padepokan,” katanya.
Di luar dugaan, Blek Dit Dot berkembang menjadi salah satu karya paling populer yang pernah diciptakannya. Hingga kini tarian tersebut masih dipentaskan dan diajarkan di berbagai sekolah, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi di sejumlah negara Asia.
Tarian itu menggambarkan keceriaan, kejenakaan, dan dinamika kehidupan anak-anak saat bermain maupun menghadapi konflik. Menurut Bimo, karya tersebut kemudian berkembang dalam berbagai versi sesuai interpretasi masing-masing negara.
“Sampai sekarang ada banyak versi. Dulu saya dan Butet sempat diminta menuntut soal itu, tetapi saya biarkan saja. Saya justru senang karena karya saya disukai banyak orang,” ujarnya.
Menyatukan Tari dan Seni Rupa
Kesuksesan Blek Dit Dot menjadi titik awal bagi Bimo untuk terus bereksperimen dalam berkarya. Meski telah memilih dunia tari, ia mengaku tidak pernah meninggalkan kecintaannya pada seni rupa. Karena itu, hampir seluruh karyanya berusaha mempertemukan kedua disiplin seni tersebut dalam satu panggung.
Salah satu karya yang dianggap paling penting adalah Lotus yang diciptakan pada 1988.

Tarian ini mengangkat tema kehidupan, kemurnian, dan kesucian. Dibawakan oleh tiga penari, Lotus menggunakan kain sepanjang 36 meter yang dibentuk menyerupai bunga teratai.
“Kain sepanjang 36 meter dipilih karena pertimbangan visual. Teratai menjadi simbol kehidupan yang terus tumbuh dan berkembang,” katanya.
Bagi Bimo, panggung tari merupakan kanvas hidup tempat berbagai unsur visual bertemu. Koreografi, pencahayaan, kostum, tata panggung, hingga teknologi multimedia menjadi bagian dari komposisi artistik yang utuh.
“Koreografi ruang panggung bagi saya seperti goresan di atas kanvas. Dengan bantuan pencahayaan dan videografi, ruang dua dimensi bisa berubah menjadi pengalaman tiga dimensi,” ujarnya.
Pendekatan itulah yang membuat sejumlah pengamat menilai karya-karyanya melampaui batas-batas koreografi konvensional dan semakin dekat dengan seni rupa.
Eksperimen Tari Satu Jam
Sejak mulai berkarya pada awal 1980-an, Bimo telah menciptakan lebih dari 100 karya tari. Hampir setiap tahun ia menghasilkan karya baru, kecuali pada masa pandemi Covid-19. Karya-karyanya juga telah dipentaskan di berbagai negara, termasuk Singapura, Malaysia, dan Jepang.
Ia pernah berkolaborasi dengan koreografer Jepang Takashi Watanabe dalam program kerja sama Yogyakarta-Kyoto serta peringatan 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang. Ia juga bekerja sama dengan komposer Jepang Izumi Nagano dalam proyek musik dan pertunjukan.
Pada 2023 ia menggelar pentas tari Bedhaya Bocah Bajang. Dan eksperimen terbarunya hadir melalui karya berjudul Manah yang dipentaskan pada 2024. Pertunjukan tersebut melibatkan 10 penari dan 10 musisi dengan durasi mencapai 1 jam tanpa jeda. Karya ini lahir sebagai respons terhadap kehidupan modern yang serba cepat.
“Manah berarti rasa. Sekarang semua bergerak serba cepat. Saya justru ingin menguji apakah kelambatan bisa tetap menarik perhatian penonton,” katanya.
Menurut Bimo, eksperimen itu berhasil. Penonton tetap bertahan hingga akhir pertunjukan tanpa meninggalkan ruangan, mengobrol, ataupun sibuk dengan telepon genggam mereka.
“Yang terpenting bukan durasinya, tetapi bagaimana visual dan pengalaman artistiknya mampu membuat penonton tetap terlibat sampai selesai,” ujarnya.
Melalui karya-karyanya, Bimo terus menunjukkan bahwa tari tidak hanya berbicara tentang gerak, tetapi juga dapat menjadi ruang pertemuan berbagai disiplin seni yang menghadirkan pengalaman visual dan emosional yang utuh.

Aksara Jawi Terpinggirkan dari Pendidikan 