catrawarta.com — Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta membedah kondisi rumah tangga Indonesia dalam situasi yang sedang tidak baik-baik saja. Pada pentas yang berlangsung belum lama ini, mereka mengangkat tema ”Entah Kapan Kusebut Itu Rumah” di Auditorium Driyarkara, kampus setempat.
Inti pertunjukan tersebut, keberadaan rumah tang tak lagi sebagai pelabuhan yang aman. Mereka mengisahkan keluarga kelas menengah dengan empat anak perempuan. Ada banyak hal terungkap dalam pentas mulai seputar PHK yang menimpa orangtua, utang pendidikan, dan komunikasi yang buntu.
”Keluarga-keluarga kelas menengah sering kali berada di posisi yang sulit, didesak dari atas dan bawah. Melalui teater ini, mahasiswa kita belajar memahami dan mengolah tekanan tersebut,” ungkap Wakil Rektor III Universitas Sanata Dharma, Dr Titik Kristiyani. Karena itu, tema kali ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat.
Pentas yang dimulai pukul 18.30 WIB sekaligus menjadi pentas perpisahan bagi anggota angkatan 2023 Teater Seriboe Djendela. Pendamping UKM, Jeje, mengatakan lakon tersebut sengaja diangkat karena sangat dekat dengan keresahan mahasiswa masa kini yang merasa terjepit situasi ekonomi dan sosial.
Lolos ke Urban Festival
Pentas kali ini mengangkat naskah orisinal karya JB Judha Jiwangga, Gregorius Brian, dan Slamenda Dea. Proses penulisan berlangsung sejak Januari dan rampung Februari 2026. Setelah melewati dramatic reading, naskah digembleng selama empat bulan di bawah arahan Hendra Bagus Pamungkas dan dosen pembimbing JB Judha Jiwangga.
Prestasi lebih besar diraih ketika Teater Seriboe Djendela menjadi satu-satunya kelompok teater kampus yang lolos ke Yogyakarta Urban Festival (Yufest) 2026 setelah menyisihkan 25 kelompok. Mereka tampil sebagai pembuka festival dengan lakon Belajar Membaca di Taman Budaya Yogyakarta, ruang seni yang dinanti sejak 2014.
Tema yang diangkat menghancurkan romantisasi rumah sebagai tempat perlindungan sakral. Bagi generasi Z, rumah justru menjadi episentrum trauma yang diproduksi dan diwariskan. Teater menunjukkan runtuhnya teori fungsionalisme Talcott Parsons.
Ceritanya berawal saat ayah (60 tahun) mengalami PHK, peran instrumentalnya sebagai pencari nafkah runtuh. Kehilangan itu memicu kekerasan simbolik Pierre Bourdieu yang kemudian merembet menjadi kekerasan verbal di dalam rumah.
Ibu (51 tahun) lalu mengubah hubungan darah menjadi hubungan komoditas. Sophia (22 tahun), anak kedua yang masih kuliah, kerap disebut sebagai ”beban finansial”. Agni (24 tahun), anak sulung, merepresentasikan sandwich generation. Tabungan pernikahannya harus dikorbankan untuk menyangga keluarga, membuatnya menjadi dingin dan opresif terhadap adik-adiknya.
”Luar biasa banget pokoknya karena kisahnya ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita. Apalagi aku ngerasa relate banget di bagian akhirnya,” ujar seorang penonton, Poppy, seperti disampaikan dalam keterangan tertulis kampus USD.

