catrawarta.com — Ranup atau daun sirih memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi mengunyah ranup yang dibubuhi kapur, irisan pinang, dan gambir masih menjadi bagian dari budaya masyarakat hingga kini.
Pentingnya ranup dalam kehidupan orang Aceh kemudian divisualisasikan melalui Tari Ranup Lampuan, tarian tradisional yang menggambarkan proses menyiapkan sirih mulai dari memetik hingga menyajikannya kepada tamu.
Pamong Budaya pada Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Agung Suryo S, mengatakan Tari Ranup Lampuan merupakan simbol penghormatan masyarakat Aceh terhadap tamu.
“Ranup bagi masyarakat Aceh tidak hanya sekadar tumbuhan yang memiliki manfaat fisik. Di balik itu terdapat berbagai penafsiran karena ranup menjadi simbol yang multi rupa,” kata Agung, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, ada banyak makna sosial dan kultural yang terkandung dalam daun sirih di Aceh. Hal itu terjadi karena ranup digunakan dalam berbagai aktivitas adat dan kehidupan sehari-hari sehingga maknanya pun beragam.
Pada masa Kesultanan Aceh, ranup beserta perlengkapannya memegang peranan penting. Tidak hanya dikonsumsi, daun sirih juga digunakan dalam berbagai upacara kebesaran kerajaan.
Dalam sistem daur hidup masyarakat Aceh, ranup hampir selalu hadir dalam berbagai prosesi adat, mulai dari pernikahan, khitanan, hingga pemakaman.
“Sehingga ada anggapan bahwa adat dan ranup menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan di Aceh,” ujarnya.
Tradisi penggunaan ranup juga terlihat dalam prosesi kelahiran. Saat usia kandungan memasuki tujuh atau delapan bulan, keluarga biasanya mendatangi bidan sambil membawa peunulang sebagai tanda penyerahan tanggung jawab persalinan.
Peunulang umumnya berisi ranup setapak atau satu paket perlengkapan sirih, pakaian persalinan, dan sejumlah uang sesuai kemampuan keluarga.

Setelah menerima peunulang, bidan memiliki kewajiban untuk rutin menjenguk ibu hamil hingga proses persalinan selesai. Bahkan, ada bidan yang menetap sementara sampai bayi lahir.
Saat bayi lahir, pusat bayi dipotong dengan sebilah sembilu, kemudian diobati dengan obat tradisional berupa arang, kunyit, dan air ludah ranup. Semua bahan tersebut diaduk menjadi satu untuk ditempelkan pada pusat bayi.
Ranup juga digunakan dalam prosesi lamaran dan pernikahan. Selain itu, daun sirih menjadi bagian dari tradisi saat anak pertama kali belajar mengaji. Orang tua biasanya membawa ranup sebagai bentuk penghormatan kepada guru mengaji atau teungku.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh, tamu atau jamee mendapat penghormatan istimewa. Saat menerima tamu, tuan rumah biasanya menyuguhkan ranup dalam sebuah wadah khusus.

Tradisi memuliakan tamu tersebut tercermin dalam Tari Ranup Lampuan. Kata ranup berarti sirih, lam berarti dalam, dan puan berarti cerana atau tempat sirih. Secara harfiah, Ranup Lampuan berarti sirih di dalam cerana.
“Tarian ini diangkat dari adat masyarakat Aceh dalam menerima dan menghormati tamu. Dalam tradisi adat, Tari Ranup Lampuan dipersembahkan bagi tamu yang dimuliakan, dahulu pejabat kerajaan dan kini tamu negara atau pejabat pemerintahan,” jelas Agung.
Menurut Agung, tradisi memuliakan tamu di Aceh bukan hanya soal adat, tetapi juga bagian dari ajaran agama
Dari sisi kemanusiaan, tradisi tersebut menjadi sarana menjaga silaturahmi dalam kehidupan sosial. Sementara dari sisi agama, tradisi itu sejalan dengan hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebut salah satu ciri orang beriman adalah memuliakan tamu.
Bagi masyarakat Aceh, ranup juga menjadi simbol kerendahan hati, keramahan, dan penyambung silaturahmi. Dalam beberapa tradisi, ranup bahkan digunakan sebagai simbol undangan untuk menghadiri acara keluarga seperti pernikahan.

Angkat Realitas Kekinian, Retaknya Keluarga Kelas Menengah 