catrawarta.com — Pelaksanaan puncak acara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, mendapatkan keluhan dari para siswa sebagai peserta senam. Kegiatan pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk senam anak Indonesia hebat itu disebut “ngaret” hingga membuat banyak siswa memilih pulang sebelum acara selesai.
Ribuan siswa Kabupaten Pamekasan telah memadati Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGRMP) Minggu (24/5/2026), 06.00 WIB. Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP dan SMA. Mereka berkumpul di GOR SGRMP untuk mengikuti agenda Senam Anak Indonesia Hebat.
Acara ini melibatkan 24.114 siswa sekaligus kegiatan untuk memecahkan rekor MURI. Tetapi sebelum acara selesai ribuan siswa justru tampak meninggalkan lokasi secara bersamaan.
Dikutip dari surabaya.kompas.com, suasana tampak lengang ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, naik ke atas panggung. Area depan panggung hanya tersisa puluhan siswa beserta sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan saat sambutan berlangsung.
Siswa berinisial IF menyampaikan memilih pulang awal karena acara berjalan lebih lambat dari jadwal. Siswa sudah hadir pukul sejak pukul 05.30 WIB karena acara senam direncanakan dimulai pada pukul 06.00 WIB. Namun, kondisi di lapangan membuat banyak siswa tidak dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman.
“Acaranya molor, kami sudah hadir ke tempat ini sejak masih petang. Ya kami pulang,” ungkap IF. Ia juga menyampaikan keterbatasan area senam yang dinilai terlalu padat, sejumlah siswa tidak bisa ikut bergerak bersama karena lokasi sudah penuh dipadati peserta senam.
“Tempatnya penuh berdesakan. Kami hanya bisa di pinggir enggak bisa masuk,” tambahnya.
Sering Bilang “OTW” Padahal Belum Berangkat
Budaya tidak tepat waktu atau “ngaret” sebenarnya kerap dibahas dari sisi perilaku manusia. Dikutip dari media antaranews.com, Alfie Kohn, penulis dan dosen perilaku manusia, dalam Psychology Today pernah mengulas sejumlah alasan seseorang datang terlambat. Salah satunya karena ingin menjadi pusat perhatian atau terlalu sibuk dengan urusan pribadi hingga membuat orang lain menunggu (News, 2017). Dalam sisi psikologi, kebiasaan tidak tepat waktu bisa muncul tanpa disadari sebagai perilaku negatif demi memenuhi kepentingan diri sendiri.
Sementara itu, dikutip dari kumparan.com, tidak tepat waktu kini dianggap makin umum dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit acara formal yang juga toleransi terhadap peserta atau penyelenggara yang datang terlambat, sehingga kebiasaan tersebut perlahan dianggap normal di tengah masyarakat (Tantomi, 2019).
Menghargai Waktu adalah Menghargai Orang Lain
Sebenarnya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi kebiasaan “ngaret” ini. Dikutip dari Hipwee (Mudiana, 2018), salah satu cara adalah dengan membuat reminder atau pengingat. Di jaman modern ini, pengingat bisa melalui alarm, aplikasi catatan, hingga agenda pribadi agar jadwal tidak terlewat.
Selain itu, berangkat lebih awal juga menjadi cara penting untuk mengantisipasi hambatan di perjalanan, seperti kemacetan atau cuaca buruk. Dengan persiapan waktu yang lebih longgar, kebiasaan datang terlambat diharapkan bisa berkurang.
Kembali lagi, ketika ribuan siswa bisa hadir tepat waktu, tamu undangan pun seharusnya juga bisa lebih on time. Di sisi lain panitia harus bisa lebih menyikapi kondisi di lapangan. Jika acara bisa berjalan tepat waktu, semua pihak memiliki andil dalam menyukseskan Senam Anak Indonesia Hebat.

Perdagangan Manusia Ancam Pekerja Migran Indonesia 