catrawarta.com — Jika harus menemukan keunikan dari Yogyakarta, selain sumbu imajiner dan sumbu filosofis, adalah tiga mata rantai peradaban. Ketiganya, keraton, kampus dan kampung, yang masing-masing menjadi ikatan historis pedagogis yang sulit ditemukan di tempat lain.
Kuliah di Jogja bisa jadi menjadi doa banyak orang tua bagi anak-anaknya. Jalan-jalan di kampus, boleh jadi impian banyak anak muda. Tidak saja sekarang, tetapi justru telah diletakkan oleh berjuta mahasiswa jauh sebelumnya. Sejak awal kemerdekaan, Yogyakarta memang menjadi tujuan bagi banyak orang untuk mengenyam pendidikan melalui bangku kuliah.
Universitas Gadjah Mada, sebagai universitas kebangsaan dalam pengertian yang sebenarnya, bahkan pernah menempati kompleks Keraton Yogyakarta. Terbayang, para mahasiswa naik sepeda keluar masuk regol keraton dengan gaya hidup yang kini menjadi klasik. Tercatat, Presiden Soekarno menerima gelar Doktor Honoris Causa pertama dari UGM melalui Rektor Prof Sardjito di Sitihinggil Keraton Yogyakarta pada 19 September 1951. Bertindak sebagai promotor adalah Prof Notonagoro.
Hubungan historis simbiosis antara Keraton Yogyakarta dan UGM bukan hanya sebatas pemberian gelar honoris causa. Ngarsa Dalem IX bahkan memberikan tanahnya untuk dibangun kampus-kampus ternama di Yogyakarta. Bahkan beliau membangun puluhan asrama mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru Nusantara agar bisa maksimal kuliah di Yogyakarta. Sebuah visi yang membumi dan beliau warisi dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Dari ikatan antara keraton dan kampus itu, lahirlah kaum cerdik pandai dan menjadi penyuplai terbentuknya kaum cendekiawan. Mereka digembleng dalam kawah candradimuka selama di Yogyakarta dengan visi dan karakter yang jelas. Keberpihakan mereka pada nasib rakyat dan bangsa tak perlu diragukan. Serasa ada pembeda antara mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta dengan tempat lain.
Tak boleh dilupakan jasa Rektor UGM (1986-1990) Prof Koesnadi Hardjasoemantri. Pada 1971, saat masih menjabat Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, beliau mencetuskan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), sebuah wahana bagi para mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa untuk dekat dan mendedikasikan ilmunya bagi masyarakat. Ilmu tak hanya di kampus, di masyarakat pun banyak ilmu. Mendekatkan mahasiwa dengan masyarakat akan menumbuhkan empati sekaligus mendorong terjadinya kolaborasi.
Menjelang akhir perkuliahan, para mahasiswa secara bergelombang diterjunkan ke kampung-kampung di berbagai wilayah. Mereka tidak saja saling berinteraksi tetapi juga mencoba mencarikan solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat. KKN menjadi jalan bagi mahasiswa untuk bisa belajar bermasyarakat agar menjadi bekal ketika kelak harus menapaki hidup secara nyata.
Keraton, Kampus dan Kampung (3K) menjadi sumbu cendekia yang amat positif peranannya dalam pembangunan dan kebudayaan. Hampir semua universitas dan perguruan tinggi mengirimkan mahasiswa pada semester akhir untuk mengikuti KKN. Tak hanya yang ada di Yogyakarta tetapi juga wilayah lain di Indonesia. Para akademisi, ilmuwan, cendekiawan, dan civitas akademika berbagi peran kehidupan dengan berkontribusi melalui kompetensi dan keahlian yang mereka miliki.
Di pengujung rezim Orde Baru, tiga pilar peradaban yakni keraton, kampus, dan kampung bergerak dalam satu derap langkah melalui Pisowanan Agung pada 20 Mei 1998. Jutaan mahasiswa dan warga masyarakat berjalan dalam aksi refornasi damai dari Bulaksumur (Kampus UGM) menuju Pagelaran Keraton Yogyakarta. Mereka disambut oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam VIII. Sehari kemudian, 21 Mei 1998, penguasa Orde Baru Soeharto, turun dari kekuasaan yang diduduki lebih dari 30 tahun.

TNI Tidak Memerintahkan Pelarangan Pesta Babi 