Warta

Rumah Pahlawan Nasional Dokter Sardjito Ditawarkan untuk Dijual

catrawarta.com — Khalayak mengenal dr. Sardjito sebagai nama rumah sakit besar di kawasan kampus UGM. Secara administrative rumah sakit tersebut dibawah Kementrian...

Two a frame buildings with steep orange tiled roofs pale yellow walls and green trim amid a small garden at night
Rumah Pahlawan Nasional Prof. dr. Sardjito di Jl. Cik Di Tiro Nomor 16 Terban Gondokusuman Yogyakarta ditawarkan untuk dijual. Foto: Instagram.

catrawarta.comKhalayak mengenal dr. Sardjito sebagai nama rumah sakit besar di kawasan kampus UGM. Secara administrative rumah sakit tersebut dibawah Kementrian Kesehatan, statusnya akreditasi paripurna dan melayani rujukan nasional. Dokter Sardjito adalah rektor pertama UGM periode 1949-1961 dan juga rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII) di rentang tahun 1963-1970. 

Belakangan ini santer terdengar bahwa kediaman pribadi almarhum yang terletak di Selatan kampus UGM, di Jalan Cik Di Tiro,Terban, akan dijual. Berita ini diunggah oleh beberapa media nasional berdasar informasi yang disampaikan oleh salah seorang kerabat Sardjito, Budi, yang diberi kewenangan untuk mengelola rumah itu. 

Prof. dr. Sardjito tinggal di sebuah rumah bergaya arsitektur jengki semenjak menjabat rektor UGM tahun 1949 silam. Awalnya sebagai rumah dinas, namun dikemudian hari menjadi milik pribadi. 

Rumah ini berdiri di atas lahan seluas 1.206 meter persegi dengan luas bangunan kurang lebih 800 meter persegi. Hingga saat ini tidak banyak mendapat sentuhan perbaikan sejak berdiri puluhan tahun silam. Bahkan furnitur di dalamnya masih asli. 

Sebagai bangunan berstatus cagar budaya, rumah itu menyimpan banyak momen historis. Banyak tokoh nasional yang dulu pernah berkunjung. Pak Karno (Presiden pertama RI Sukarno), Ngarso Dalem (Sri Sultan HB IX). Pak Hatta (Wapres pertama RI Moh Hatta) serta ayah Presiden Prabowo (Prof. Soemitro Djojohadikusumo).

Rumah peninggalan seorang pahlawan nasional tersebut menyimpan jejak perjalanan intelektual sekaligus sejarah panjang dunia pendidikan dan kesehatan di Yogyakarta. Budhi yang tinggal di rumah itu sejak 1980, sepuluh tahun sejak Sarjito meninggal, mengaku mulai kewalahan merawat rumah tersebut. Renovasi berkala setiap lima tahun membutuhkan biaya. Kedua cucu Sardjito selaku orang ahli waris juga tinggal di luar kota. 

Budi dan ahli waris ingin rumah ini dirawat oleh pihak yang tepat. Mereka menawarkan rumah itu kepada sekitar sepuluh pihak, mulai dari UGM, UII, mantan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, hingga sejumlah pengusaha. Dari semua pihak itu, Budhi paling berharap UGM atau UII bersedia membeli rumah Harapannya bisa jadi museum atau rumah dinas rektor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *