Catra Budaya

Nyadran Gunung Gambar, Teladani Pangeran Sambernyawa

catrawarta.com — Raden Mas Said yang kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I merupakan sosok yang sangat peduli terhadap...

Group of people in batik and traditional attire on an outdoor stage under a thatched roof a woman in a turquoise shawl speaks into a microphone while others watch
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo (KGPAA) Mangkunegoro X atau Gusti Bhre dalam acara Nyadran Gunung Gambar di Jurangjero Kapanewon Ngawen, Kamis (14/5/26). Foto: gunungkidul.go.id

catrawarta.comRaden Mas Said yang kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I merupakan sosok yang sangat peduli terhadap rakyat. Ia menentang kesewenang-wenangan VOC hingga akhirnya diangkat sebagai pahlawan nasional. 

Pangeran Sambernyawa adalah julukannya dari Nicolaas Hartingh selaku perwakilan Gubernur VOC untuk Pantai Timur Jawa, karena di dalam berbagai pertempuran RM. Said nyaris tidak pernah kalah dan selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Selama kehidupannya Sambernyawa adalah sosok yang menjunjung tinggi kebersamaan. Beliau memegang filosofi  perjuangan “Tiji Tibehmati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh.” Pemimpin memiliki jiwa seperti Pangeran Sambernyawa saat ini nyaris sulit ditemukan di tengah masyarakat.

Umumnya pemimpin saat ini adalah pragmatis, menindas, sewenang-wenang mengikuti hawa nafsunya untuk kepentingan pribadi golongannya. 

Untuk meneladani semangat perjuangan beliau, warga Kelurahan Jurangjero, Kapanewon Ngawen, Gunung Kidul rutin mengadakan kegiatan Sadranan di situs sejarah Gunung Gambar. Gunung Gambar memiliki nilai historis sebagai petilasan (tempat persinggahan) Pangeran Sambernyawa dalam sejarah perjuangannya.

Rangkaian acara Sadranan ini telah dimulai sejak malam sebelumnya dengan pagelaran Ringgit Purwa (Wayang Kulit) yang dibawakan oleh putra daerah setempat. Pada hari puncak, masyarakat berkumpul di bangsal atau joglo untuk melaksanakan ritual doa bersama dan sedekah sebagai bentuk syukur atas kesehatan serta hasil panen yang melimpah. Tradisi ini dilaporkan telah berjalan turun-temurun tanpa terputus, bahkan telah dilakukan jauh sebelum pemerintahan administratif modern berdiri di wilayah tersebut.

Tahun ini acara sadranan yang dilaksanakan pada hari Kamis (14/5/26) menjadi istimewa karena hadirnya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo (KGPAA) Mangkunegoro X atau Gusti Bhre. 

Kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, bersama jajaran pemerintah daerah. Kehadiran unsur Mangkunegaran dan pemerintah daerah dinilai menjadi bentuk sinergi budaya yang mempererat hubungan masyarakat.

Gusti Bhre menegaskan bahwa budaya merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Sadranan sebagai medium spiritual tidak hanya untuk kepentingan pribadi tetapi juga sebagai bentuk hubungan dengan sesama, alam, dan Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Beliau berharap agar kolaborasi dan sinergi ini dapat memajukan kehidupan kemasyarakatan melalui pelestarian budaya. “Kita semua berharap kolaborasi dan sinergi ini dapat memajukan kehidupan kemasyarakatan melalui pelestarian budaya.” 

Sementara itu, Endah Subekti meminta masyarakat agar tetap bersatu dalam bingkai budaya tanpa membeda-bedakan latar belakang agama. “Budaya harus dibawa, agama dijalankan, dan jangan sampai memihak (memecah belah) karena tradisi adat ini adalah pengikat kita semua,” tegasnya dalam arahannya.

Acara diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan seluruh warga, kesehatan pemimpin, serta keberkahan bagi wilayah Gunungkidul dan Mangkunegaran secara luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *