catrawarta.com — Pendidikan yang berhasil tidak cukup hanya mengandalkan aspek kognitif dan penguasaan ilmu pengetahuan. Perlu ditopang oleh keteladanan nyata dari para pemimpin, pendidik, dan seluruh elemen bangsa.
Penegasan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam pesannya di Hari Pendidikan Nasional.
Ia mengungkapkan, Indonesia memiliki cita-cita besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Upaya tersebut tidak sekadar membangun kecerdasan intelektual, melainkan juga membentuk manusia yang utuh, berakhlak mulia, berintegritas, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Menurutnya, pendidikan harus bersifat holistik, tidak menekankan nalar dan sains saja tetapi juga membangun dimensi spiritual, moral, dan tindakan nyata yang luhur.
Kembangkan Potensi Manusia
Haedar menegaskan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berilmu, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.
”Karena itu, pendidikan tidak boleh direduksi hanya pada capaian akademik semata,” tegasnya.
Ia menekankan salah satu faktor paling menentukan dalam keberhasilan pendidikan yakni keteladanan para elite bangsa di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat luas. Menurutnya, keteladanan merupakan acuan utama dalam membentuk karakter generasi.
Dalam pandangannya, jika para pemimpin menunjukkan keteladanan yang baik, masyarakat akan meniru secara positif. Sebaliknya, ketika keteladanan hilang, hilang pula rujukan kebajikan di negeri ini.
Ia mengingatkan pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengayomi dengan hati yang jernih dan mencerahkan. Selain itu, filosofi pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara juga relevan untuk terus dihidupkan, yakni ”Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.
Refleksi Hadirkan Keteladanan
Momentum Hari Pendidikan Nasional, menurut Haedar, seharusnya menjadi titik refleksi untuk menghadirkan kembali keteladanan dalam dunia pendidikan dan kehidupan berbangsa. Ia menilai, para guru, orang tua, dan pemimpin di berbagai sektor memiliki peran penting dalam memberikan contoh nyata kepada generasi muda.
”Apalah arti pendidikan tanpa keteladanan sebagai role model? Kata-kata dan pidato tentang pentingnya sumber daya manusia akan kehilangan makna jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata,” tandasnya.
Ia juga mengingatkan, generasi muda saat ini, termasuk Generasi Z dan Alfa, membutuhkan figur teladan yang nyata, bukan sekadar simbol atau retorika di ruang publik dan media sosial.
Haedar mengajak seluruh komponen bangsa untuk membangun gerakan keteladanan secara kolektif, dimulai dari para pemimpin sebagai pusat pengaruh dalam kehidupan berbangsa. Keteladanan bukan sekadar jargon.

Libur Panjang May Day, KRL Jogja-Solo Dipadati Penumpang 