catrawarta.com — Informasi tentang kesehatan di media sosial termasuk yang mendapat perhatian publik. Sayangnya, tidak semua informasi tentang kesehatan benar adanya. Bahkan banyak yang menyesatkan dan berbahaya bagi kesehatan.
Tak cuma itu, informasi kesehatan di media sosial tidak sepenuhnya sejalan dengan pedoman klinis standar. Karena itu, perlu sikap bijak masyarakat dalam memanfaatkan Informasi kesehatan di media sosial.
”Di balik kemudahan mendapat informasi, tersimpan persoalan serius karena tidak semua informasi kesehatan di media sosial akurat, dan sebagian justru berpotensi membahayakan,” ungkap pakar farmasi, Prof Zullies Ikawati.
Ia menerangkan, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) sejak pandemi Covid-19 memperkenalkan istilah infodemic, yaitu suatu kondisi banjir informasi yang bercampur antara fakta, opini, dan hoaks, sehingga menyulitkan masyarakat membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.
”Hal itu tentu bisa menimbulkan kebingungan, mendorong perilaku berisiko, dan menurunkan kepercayaan pada otoritas kesehatan. Fenomena tersebut tidak berhenti justru terus berlanjut dalam berbagai isu kesehatan sehari-hari, mulai dari obat ajaib hingga terapi alternatif tanpa dasar ilmiah,” papar Zullies.
Misinformasi Kesehatan Ranking Tinggi
Proporsi informasi kesehatan yang menyesatkan cukup tinggi, terutama menyangkut topik obat, vaksin, dan penyakit kronis. Berbagai studi menyebutkan angka misinformasi kesehatan di media sosial menduduki ranking tinggi untuk topik-topik tertentu.
Semisal isu rokok/produk terkait dan obat-obatan tertentu, beberapa studi menemukan posting misinformasi bisa mencapai 87 persen, vaksin sekitar 43 persen, penyakit (termasuk kanker, pandemi) sekitar 40 persen, dan pada tindakan/terapi medis sekitar 30 persen.
Data-data tersebut memberi arti beberapa area-topik yang memang ”rawan” dipenuhi klaim yang tidak seimbang atau tidak berbasis bukti. Pada isu vaksin, misalnya, hampir separuh konten di beberapa platform mengandung misinformasi atau narasi yang tidak seimbang.
”Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang cenderung mengangkat konten sensasional, emosional, dan menjanjikan hasil instan. Ini tentu bukan konten yang akurat dan berbasis bukti,” Zullies.
Hoaks Kesehatan Sering Muncul
Ia melihat persoalan tersebut juga tergambar dari data penanganan hoaks oleh pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat ribuan isu hoaks setiap tahun, dengan tema kesehatan sebagai salah satu kategori yang paling sering muncul.
Komdigi melaporkan hingga akhir 2023, mereka telah menangani sebanyak 12.547 isu hoaks, dan bidang kesehatan termasuk yang menonjol dengan 2.357 isu hoaks. Meski menyesatkan, isu kesehatan memang menjadi tema yang sering dimanfaatkan karena mudah memicu emosi. Masyarakat yang dalam ketakutan menjadi panik berharap sembuh dengan cepat sehingga konten-konten inipun mudah viral.
Zullies mengakui tantangannya makin kompleks karena informasi kesehatan sering bercampur dengan promosi. Hal ini menjadikan BPOM secara berkala merilis hasil pengawasan terkait produk obat tradisional/suplemen.
Lembaga BPOM juga melaporkan hasil temuannya pada 79.015 konten obat dan makanan ilegal di e-commerce sepanjang semester I tahun 2025. Data tersebut penting publik publik memahami karena konten digital bukan hanya soal nformasi tetapi sering beririsan dengan pemasaran dan peredaran produk bermasalah.

Keracunan, Tata Kelola dan Sampah MBG dalam Pameran 