Catra Milenia

Survei Global Ungkap Sebagian Pria Gen Z Dukung Nilai Patriarki

catrawarta.com — Di tengah citra Generasi Z sebagai generasi paling progresif dan digital, sebuah survei global justru menunjukkan gejala yang mengejutkan. Sebagian...

Ilustrasi keluarga muda memasuki rumah baru Di tengah perubahan nilai sosial dan dinamika generasi pandangan tentang peran suami dan istri dalam rumah tangga kembali menjadi perdebatan di kalangan generasi muda
Ilustrasi keluarga muda memasuki rumah baru. Di tengah perubahan nilai sosial dan dinamika generasi, pandangan tentang peran suami dan istri dalam rumah tangga kembali menjadi perdebatan di kalangan generasi muda.

catrawarta.comDi tengah citra Generasi Z sebagai generasi paling progresif dan digital, sebuah survei global justru menunjukkan gejala yang mengejutkan. Sebagian laki-laki muda kini kembali mengadopsi pandangan relasi gender yang lebih konservatif—bahkan lebih tradisional dibanding generasi yang jauh lebih tua.

Sebuah survei global terhadap lebih dari 23.000 responden di 29 negara menemukan bahwa hampir sepertiga laki-laki Generasi Z percaya bahwa seorang istri seharusnya menaati suami dalam rumah tangga. Temuan ini memunculkan perdebatan baru mengenai arah nilai sosial generasi muda di era digital.

Penelitian yang dilakukan oleh Ipsos bersama Global Institute for Women’s Leadership di King’s College London tersebut menunjukkan bahwa 31 persen laki-laki Gen Z setuju bahwa istri harus selalu patuh kepada suami, sementara 33 persen lainnya percaya suami harus memiliki keputusan akhir dalam rumah tangga.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding generasi yang lebih tua. Pada kelompok Baby Boomer—generasi yang lahir antara 1946 hingga 1964—hanya sekitar 13 persen yang memiliki pandangan serupa.

Temuan ini menantang asumsi lama bahwa generasi muda otomatis lebih egaliter dibanding generasi sebelumnya.

Generasi Digital dengan Nilai Tradisional

Gen Z selama ini dikenal sebagai generasi yang lahir di era internet, tumbuh bersama media sosial, dan dianggap lebih terbuka terhadap isu kesetaraan. Namun survei tersebut menunjukkan adanya ketegangan antara modernitas dan nilai tradisional dalam cara pandang sebagian laki-laki muda.

Data penelitian juga menunjukkan bahwa sekitar 24 persen laki-laki Gen Z berpendapat perempuan tidak seharusnya terlihat terlalu mandiri, sementara 21 persen percaya perempuan seharusnya tidak memulai hubungan seksual.

Menariknya, pandangan tersebut tidak sepenuhnya konsisten. Dalam survei yang sama, 41 persen laki-laki Gen Z juga menganggap perempuan dengan karier sukses lebih menarik.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “dualisme nilai generasi muda”—di satu sisi menerima modernitas, tetapi di sisi lain masih memegang norma patriarkal.

Krisis Maskulinitas dan Tekanan Ekonomi

Beberapa pakar melihat gejala ini berkaitan dengan perubahan struktur ekonomi dan identitas maskulinitas.

Sosiolog King’s College London, Heejung Chung, menilai generasi laki-laki muda kini menghadapi tekanan baru yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Menurutnya, dalam generasi sebelumnya laki-laki dapat menunjukkan maskulinitas melalui peran sebagai pencari nafkah utama—misalnya memiliki rumah atau menjadi penyokong ekonomi keluarga. Namun peluang tersebut kini semakin sulit dicapai oleh generasi muda.

Ketika peran tradisional tersebut tidak lagi mudah dicapai, sebagian laki-laki muda mencari kembali bentuk identitas maskulinitas melalui cara lain—termasuk dengan mempertahankan hierarki gender dalam relasi pribadi.

Faktor lain yang disebut memengaruhi perubahan sikap ini adalah ekosistem digital, terutama komunitas daring yang membahas maskulinitas secara ekstrem.

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan meningkatnya pengaruh komunitas “manosphere”—jaringan forum dan influencer yang mempromosikan pandangan maskulinitas agresif dan misoginis.

Melalui algoritma media sosial, narasi tersebut dapat dengan cepat menyebar dan membentuk persepsi generasi muda mengenai relasi gender, kekuasaan, dan identitas laki-laki.

Menariknya, perbedaan sikap juga terlihat di dalam generasi yang sama.

Perempuan Gen Z secara umum menunjukkan sikap yang jauh lebih egaliter. Hanya sekitar 18 persen perempuan Gen Z yang setuju bahwa istri harus selalu menaati suami, angka yang jauh lebih rendah dibanding laki-laki seusianya.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa konflik nilai mengenai peran gender tidak lagi terjadi antar generasi, tetapi juga di dalam generasi yang sama.

Negosiasi Baru Relasi Gender

Para peneliti menilai hasil survei ini menunjukkan bahwa masyarakat sedang berada dalam fase “negosiasi ulang” mengenai peran gender di abad ke-21.

Ketua Global Institute for Women’s Leadership, Julia Gillard, menyebut temuan tersebut sebagai peringatan bahwa perjuangan kesetaraan gender belum sepenuhnya selesai.

Menurutnya, sebagian laki-laki muda tidak hanya membatasi perempuan dengan ekspektasi tradisional, tetapi juga membatasi diri mereka sendiri dalam definisi maskulinitas yang sempit.

Di tengah perubahan sosial yang cepat, generasi muda ternyata tidak selalu bergerak menuju arah yang sama. Sebagian justru menoleh kembali pada nilai lama, sementara sebagian lainnya terus mendorong gagasan kesetaraan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masa depan relasi gender bukan sekadar soal perubahan generasi, melainkan tentang bagaimana masyarakat merumuskan ulang identitas, peran, dan kekuasaan dalam hubungan manusia di era modern.

Catatan: Artikel ini disusun dengan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan telah melalui proses kurasi serta penyuntingan oleh tim redaksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *