catrawarta.com — Peringatan peristiwa perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsa di Bait Al-Maqdis, jika dikaitkan dengan akal pikiran manusia, maka akal itu tidak sanggup untuk menerimanya, kecuali dengan iman. Sama seperti ucapan seekor semut yang mengklaim kepada sekelompok semut lainnya yang menyatakan, bahwa “aku telah melakukan perjalanan dari Jakarta- Surabaya dalam waktu dua jam”.
Tentu saja klaim itu tidak diterima oleh semut lainnya, karena seekor semut tidak mungkin dapat melakukan perjalanan sejauh itu hanya dalam waktu yang singkat, namun mereka lupa, perjalanan yang ditempuh itu dilakukan lewat pesawat.
Berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj itu, kita meyakini Kemahakuasaan Allah yang telah menciptakan langit dengan tujuh lapis. Al-Qur’an sendiri sesungguhnya tidak memberi keterangan yang rinci tentang tujuh lapis langit itu.
Seperti dikutip dari Harian Republika yang ditulis Almarhum Nurcholis Majid edisi 13 Januari 1913 seperti yang dirilis dalam Tajuk Rasil disebutkan, ada keterangan tidak langsung tentang langit yang pertama, atau langit dunia Yaitu bahwa langit yang pertama ini dihiasi oleh berjuta bintang. Ini dapat disimpulkan bahwa seluruh bintang dan seluruh benda langit sejak dari yang paling dekat ke bumi seperti rembulan sampai ke bintang yang paling jauh, berada di langit pertama.
Bagaimana dengan bintang yang paling jauh dan berapa jaraknya ke bumi ?
Sebuah temuan paling mutakhir dalam astronomi modern, dengan alat-alat yang ultra canggih, menunjukkan bahwa bintang yang paling jauh dari bumi berjarak dua miliar tahun cahaya! Artinya, bintang itu berada sedemikian jauh, sehingga cahaya atau sinar dari bintang terjauh untuk mencapai bumi itu memerlukan waktu dua miliar tahun kecepatan cahaya.
Kita dapat membayangkan betapa jauhnya jarak itu. Kita juga memahami bahwa cahaya dapat keliling bumi pada khatulistiwa sebanyak tujuh kali dalam satu detik. Kalau kita bandingkan bahwa jarak matahari dari bumi hanya delapan menit cahaya. _Jika dihitung dengan kilometer, maka jarak antara bumi dan matahari sejauh 120.000.000 km.
Berdasarkan tinjauan ilmiah itu, maka kalau RasuLuLLoh melakukan Isra’ Mi’raj dengan kendaraan bouroq yang melaju secepat cahaya, sesungguhnya beliau baru tembus langit pertama setelah berjalan dengan Dua miliar tahun. Dan baru sampai ke atas langit yang ketujuh setelah menempuh perjalanan empat belas miliar tahun. Sampai ke Makkah kembali dari perjalanan itu setelah dua puluh delapan miliar tahun.
Itu pun kalau memang betul, batas langit pertama ialah hanya sejauh dua miliar tahun, seperti temuan mutakhir astronomi modern.
Jadi ilmu pengetahuan tidak akan sanggup menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj. Apalagi kalau diingat, konon, menurut para ahli, kecepatan cahaya adalah kecepatan mutlak, sehingga setiap benda yang berjalan secepat cahaya akan lebur dan terurai menjadi energi. Karena itu mungkin sekali bahwa Rasulullah ketika mengalami peristiwa maha hebat itu, dengan kehendak Nya telah lepas dari dimensi ruang dan waktu.
Kalau Einstein, dengan teori kenisbiannya, dapat menerangkan secara teoritis bahwa manusia dapat ‘berjalan-jalan ke masa lampau, maka berarti kemungkinan seseorang lepas dari dimensi ruang dan waktu juga dapat diterangkan secara teoritis ilmiah. Hanya wujudlah yang tidak mungkin kita ketahui, karena kita sendiri dikungkung oleh dimensi ruang dan waktu itu.
Benarlah Sahabat Abu Bakar dengan sikapnya yang penuh iman kepada Tuhan dan kepada Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan Rasul. Kita pun meneladani sikap Abu Bakar RA yang mempercayai peristiwa Isra’ Mi’raj itu tanpa reserve. (Dari berbagai sumber)

Kekuatan Politik Baru, Partai Gema Bangsa Dideklarasikan di Jakarta 