Catra Milenia

Makanan Berkedok Self-Reward Khas Gen Z Diam-Diam Menggerogoti Ginjal

catrawarta.com — Bagi banyak anak muda hari ini, “self reward” sering kali sederhana: segelas boba setelah kerja, kopi literan saat begadang, atau...

Kebiasaan yang terlihat sepele itu ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak kecil Para dokter mulai mengingatkan bahwa pola makan populer di kalangan gen z dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal sejak usia muda
Kebiasaan yang terlihat sepele itu ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak kecil. Para dokter mulai mengingatkan bahwa pola makan populer di kalangan Gen Z dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal sejak usia muda.

catrawarta.comBagi banyak anak muda hari ini, “self reward” sering kali sederhana: segelas boba setelah kerja, kopi literan saat begadang, atau mi instan saat malas memasak.

Namun kebiasaan yang terlihat sepele itu ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak kecil. Para dokter mulai mengingatkan bahwa pola makan populer di kalangan Gen Z dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal sejak usia muda.

Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia, Pringgodigdo Nugroho, menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis banyak dipicu oleh kondisi seperti obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi—yang semuanya berkaitan erat dengan pola makan.

“Makanan tinggi kalori dan yang manis-manis bisa memicu diabetes. Ditambah gaya hidup sedentary atau kurang aktivitas,” ujarnya, dikutip dari laporan sebuah media.

Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, fungsi ginjal bisa menurun secara perlahan hingga berujung gagal ginjal.

Comfort Food yang Tidak Selalu “Comfort”

Banyak makanan yang menjadi favorit generasi muda sebenarnya termasuk kategori ultra-processed food—makanan olahan dengan kandungan garam, gula, dan lemak yang tinggi.

Contohnya:

  • mi instan
  • makanan cepat saji
  • camilan tinggi natrium
  • minuman manis seperti boba atau kopi susu kekinian

Menurut World Health Organization, konsumsi garam yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, yang merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit ginjal kronis.

Sementara itu, gula berlebih dapat meningkatkan risiko diabetes. Data dari International Diabetes Federationmenunjukkan bahwa diabetes merupakan penyebab terbesar gagal ginjal kronis di banyak negara.

Masalahnya, makanan-makanan ini sering hadir dalam budaya konsumsi Gen Z sebagai comfort food: mudah, murah, dan cepat.

Gagal Ginjal Tidak Lagi Penyakit “Orang Tua”

Para dokter juga melihat perubahan pola penyakit ginjal dalam beberapa tahun terakhir.

Jika dulu gagal ginjal identik dengan usia lanjut, kini kasus pada usia muda semakin sering ditemukan. Bahkan kelompok usia 20–30 tahun mulai banyak yang mengalami gangguan ginjal.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia terus meningkat dan menjadi salah satu penyakit katastropik dengan biaya pengobatan terbesar dalam sistem jaminan kesehatan nasional.

Salah satu penyebab yang kerap muncul pada usia muda adalah peradangan ginjal atau glomerulonefritis.

Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah gejalanya sering tidak terasa di tahap awal. Banyak orang baru mengetahui ginjalnya bermasalah setelah kerusakan sudah cukup serius.

Menurut National Kidney Foundation, salah satu tanda awal gangguan ginjal adalah urine berbusa akibat adanya protein dalam urine—indikasi bahwa ginjal tidak lagi menyaring darah dengan baik.

Budaya Instan dan Tubuh yang Tidak Siap

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana gaya hidup digital juga memengaruhi cara generasi muda makan.

Di era media sosial, makanan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan identitas. Minuman viral, makanan tren, hingga budaya “ngopi tiap hari” menjadi bagian dari rutinitas sosial.

Namun tubuh manusia tidak selalu siap mengikuti ritme konsumsi yang serba instan itu.

Ginjal, misalnya, bekerja tanpa henti menyaring racun dari darah setiap hari. Ketika terlalu sering dibebani oleh gula, garam, dan makanan ultra-olahan, organ ini perlahan bisa mengalami kerusakan.

Saatnya Mengubah Definisi Self-Reward

Bagi generasi muda, menjaga kesehatan sering terasa seperti sesuatu yang bisa ditunda.

Padahal, justru di usia produktif inilah kebiasaan hidup terbentuk—termasuk kebiasaan makan.

Self-reward tidak selalu harus berarti makanan manis atau junk food. Terkadang, bentuk penghargaan terbaik untuk diri sendiri adalah menjaga tubuh tetap sehat dalam jangka panjang.

Karena tren makanan bisa datang dan pergi.

Tetapi ketika ginjal rusak, tubuh tidak punya fitur reset seperti aplikasi di ponsel.

Catatan: Artikel ini disusun dengan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan telah melalui proses kurasi serta penyuntingan oleh tim redaksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *