catrawarta.com — Kebiasaan orang tua mengabadikan diri melalui swafoto atau selfie ternyata tidak sekadar menjadi tren gaya hidup digital. Sebuah studi terbaru menunjukkan, anak yang tumbuh dengan orang tua yang gemar selfie berpotensi lebih rentan memikirkan operasi plastik saat memasuki usia remaja.
Penelitian yang dimuat dalam Journal of Health Psychology itu melibatkan 541 pasangan orang tua dan anak. Hasilnya menunjukkan adanya pola tidak langsung antara kebiasaan ibu yang sering berfokus pada penampilan diri dengan meningkatnya perhatian anak terhadap citra tubuh mereka. Anak cenderung meniru perilaku tersebut melalui kebiasaan selfie, memantau penampilan secara berlebihan, hingga merasa kurang puas dengan wajahnya.
Fenomena ini menegaskan bahwa ruang digital kini bukan hanya membentuk identitas orang tua, tetapi juga menjadi referensi bagi anak dalam menilai diri. Usia 16 tahun disebut sebagai fase ketika ketertarikan terhadap perubahan fisik mulai muncul, dan mereka yang telah mempertimbangkan operasi plastik memiliki kemungkinan lebih besar untuk benar-benar melakukannya.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa tidak ada hubungan sebab-akibat langsung antara hobi selfie orang tua dengan keputusan anak menjalani prosedur kosmetik. Pengaruh tersebut hadir melalui proses panjang: anak meniru kebiasaan visual orang tua, lalu membangun standar kecantikan berdasarkan apa yang mereka lihat setiap hari.
Dalam konteks gaya hidup modern, selfie memang telah menjadi bagian dari ekspresi diri dan interaksi sosial di media. Namun, bagi anak, kebiasaan orang tua di depan kamera dapat menjadi “cermin” yang membentuk cara mereka memandang tubuh dan kepercayaan diri.
Kasus figur publik yang mendapat kritik karena memperkenalkan standar kecantikan dewasa kepada anak juga memperlihatkan bagaimana sensitifnya isu citra tubuh di usia dini. Ketika anak merasa kurang mendapat kedekatan emosional atau validasi dari lingkungan terdekat, mereka lebih mudah mencari pengakuan dari luar, termasuk melalui penampilan fisik.
Di tengah budaya visual yang semakin kuat, peran orang tua tidak lagi hanya soal pengasuhan di ruang nyata, tetapi juga contoh yang ditampilkan di ruang digital. Cara orang tua memperlakukan diri sendiri — baik di depan cermin maupun kamera — menjadi standar awal bagi anak dalam membangun rasa percaya diri.
Tren ini menjadi pengingat bahwa gaya hidup digital keluarga bukan sekadar soal eksistensi, tetapi juga tentang nilai yang secara tidak langsung diwariskan kepada generasi berikutnya.

Perkuat Kerukunan di Sekolah, Kemendikdasmen Lombakan Gerak dan Lagu ‘Rukun Sama Teman’ 