Catra Milenia

Apa yang Terjadi Jika Laki-Laki Banyak Bercerita?

catrawarta.com — “Kok cowok susah banget cerita, sih?” Kalimat itu seperti jadi keluhan kolektif. Laki-laki sering dicap tertutup, jawab seperlunya, seolah dunia...

Potret laki laki yang tampak tenang dan terkendalidi balik sikap rasionalnya ada emosi yang sering kali tak pernah benar benar terucap
Potret laki-laki yang tampak tenang dan terkendali—di balik sikap rasionalnya, ada emosi yang sering kali tak pernah benar-benar terucap.

catrawarta.com“Kok cowok susah banget cerita, sih?”

Kalimat itu seperti jadi keluhan kolektif. Laki-laki sering dicap tertutup, jawab seperlunya, seolah dunia batinnya terkunci rapat. Tapi mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan kenapa mereka diam—melainkan apa yang terjadi kalau mereka justru banyak bercerita?

Sejak kecil, banyak anak laki-laki tumbuh dengan pesan yang terdengar sederhana: “Cowok nggak boleh nangis.” “Laki-laki harus kuat.” “Jangan cengeng.” Kalimat-kalimat ini perlahan membentuk cara mereka memahami diri sendiri. Dalam psikologi sosial, proses ini disebut gender role socialization—bagaimana anak belajar perilaku yang dianggap sesuai dengan jenis kelaminnya.

Psikolog Amerika, Ronald F. Levant, menyebut dampaknya sebagai normative male alexithymia: kondisi ketika laki-laki kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi, bukan karena tidak punya perasaan, tetapi karena tidak terbiasa mengolahnya. Diam, dalam konteks ini, bukan karakter bawaan—melainkan hasil latihan sosial bertahun-tahun.

Dampaknya tidak kecil. Laporan World Health Organization (WHO) secara konsisten menunjukkan angka bunuh diri laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan di banyak negara. Salah satu faktor yang kerap dikaitkan adalah rendahnya kecenderungan laki-laki mencari bantuan atau membagikan beban emosional.

Artinya, diam tidak selalu berarti tidak peduli. Bisa jadi itu bentuk bertahan.

Lalu, apa yang berubah kalau laki-laki banyak bercerita?

Yang pertama adalah relasi. Komunikasi jadi lebih setara. Pasangan tidak perlu menerka-nerka isi kepala yang tak pernah diucapkan. Dalam pertemanan, obrolan tak melulu soal kerjaan, game, atau candaan—tapi juga tentang lelah, takut, dan gagal.

Yang kedua adalah kesehatan mental. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kemampuan mengekspresikan emosi berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah dan hubungan yang lebih sehat. Peneliti kerentanan, Brené Brown, menyebut kerentanan bukan kelemahan, melainkan bentuk keberanian. Mengakui perasaan adalah bagian dari menjadi manusia.

Namun keterbukaan tidak lahir di ruang hampa. Budaya membentuk laki-laki, tapi budaya juga dibentuk bersama—oleh keluarga, sekolah, media, bahkan pasangan. Jadi mungkin pertanyaannya bukan sekadar bagaimana membuat laki-laki lebih terbuka, tetapi apakah kita sudah menyediakan ruang yang aman ketika mereka akhirnya berbicara.

Karena bisa jadi, jika sejak awal laki-laki diberi izin untuk bercerita, kita tak lagi heran mengapa mereka sering memilih diam.

Catatan: Artikel ini disusun dengan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan telah melalui proses kurasi serta penyuntingan oleh tim redaksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *