Catra Milenia

Amel Asah Mimpi Buka Warung Roti di Sentra Terpadu Kartini Temanggung

catrawarta.com — Aroma kue kering yang baru matang tercium dari ruang workshop boga residensial di Sentra Terpadu Kartini Temangung Jawa Tengah. Menjelang...

Penerima manfaat di Sentra Terpadu Kartini sedang membuat kue lebaran

catrawarta.comAroma kue kering yang baru matang tercium dari ruang workshop boga residensial di Sentra Terpadu Kartini Temangung Jawa Tengah. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, delapan penerima manfaat (PM) tampak sibuk menimbang adonan, mencetak kue, hingga menata hasil panggangan ke dalam toples.

Sentra Terpadu Kartini Temanggung merupakan unit layanan sosial di bawah Kementerian Sosial RI yang memberikan pelayanan rehabilitasi sosial dan pemberdayaan bagi penerima manfaat (PM).

Di antara mereka, Amelia Putri Rosanti (21) atau akrab disapa Amel, yang menyimpan mimpi sederhana, membuka warung roti sendiri. Keinginan untuk mandiri secara ekonomi membuat Amel menekuni setiap proses pembelajaran. Ia ingin kelak memiliki warung yang menyediakan aneka roti, kue kering, kue basah, hingga berbagai olahan lainnya.

“Saya senang membuat roti. Tidak ada yang sulit, justru saya menikmati prosesnya,” ujar Amel.

Sejak mengikuti pelatihan vokasional boga residensial, Amel bersama tujuh peserta lain belajar membuat berbagai jenis kue, mulai dari roti manis hingga kue kering khas Lebaran. Seluruh proses dilakukan secara bertahap, dari memahami resep, menyiapkan bahan, hingga praktik langsung.

Instruktur sekaligus penanggung jawab pelatihan, Della Febriola, menjelaskan, kegiatan produksi kue menjelang Idulfitri menjadi bagian dari pembelajaran sekaligus persiapan bekal usaha bagi para PM.

“Kami menyediakan resep standar, lalu mereka menyiapkan bahan dan alat sesuai takaran. Setelah itu langsung dipraktikkan. Ini bukan hanya latihan, tapi juga melatih tanggung jawab dan kemandirian,” jelas Della.

Kue seperti nastar, kastengel, pumpkin cheese cookies dan kue salju keju diproduksi sesuai kemampuan peserta. Dalam sehari, mereka mampu menghasilkan 8 hingga 10 toples berisi dua jenis kue. Hasil penjualan tidak hanya menambah pengalaman, tetapi juga sebagian disisihkan sebagai tabungan yang akan diberikan saat mereka lulus sebagai modal awal. “Ketika nanti mereka kembali ke keluarga atau sudah siap mandiri, tabungan itu bisa menjadi langkah pertama untuk memulai usaha,” tambahnya.

Tak hanya saat Ramadhan, pelatihan boga tetap berjalan di bulan-bulan biasa dengan materi pembuatan roti, masakan Indonesia, hingga minuman. Bahkan, jika ada pesanan dari pelanggan, para peserta turut memproduksi sesuai permintaan.

Bagi Amel, setiap adonan yang diuleni bukan sekadar praktik, melainkan bagian dari perjalanan meraih impian. Ia berharap keterampilan yang didapatkan di Sentra Terpadu Kartini bisa menjadi bekal nyata untuk membuka warung roti kecilnya sendiri suatu hari nanti.

“Dengan keterampilan ini, saya ingin punya usaha sendiri dan bisa mandiri,” tuturnya penuh harap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *