catrawarta.com — Terik matahari siang itu tak menyurutkan langkah warga yang memadati Lapangan Drh Soepardi Sawitan, Kota Mungkid Kabupaten Magelang Jawa Tengah, Sabtu (28/3/2026). Mereka datang dengan satu tujuan: menyaksikan sekaligus merasakan kemeriahan Gerebeg Kupat dalam rangka Hari Jadi ke-42 Kota Mungkid.
Tujuh gunungan kupat yang diarak perlahan menuju lapangan menjadi pusat perhatian. Tidak seperti ketupat pada umumnya, isi kupat-kupat ini justru lembaran uang kertas dengan berbagai nominal. Begitu aba-aba dimulai, suasana berubah riuh. Warga berlarian, berebut isi gunungan yang diyakini membawa berkah. Dalam hitungan menit, gunungan itu pun ludes.
Sebelum sampai di lokasi, gunungan kupat terlebih dahulu didoakan di halaman Masjid Agung Jawa Tengah 2 An-Nuur. Dari sana, kirab dimulai. Iring-iringan bregodo, alunan seni tradisi, serta kehadiran para pejabat daerah menambah semarak perjalanan menuju lapangan.
Harapan dan Pertolongan
Bagi masyarakat, Gerebeg Kupat bukan sekadar tradisi tahunan. Ada makna yang lebih dalam. Filosofi “ngaku lepat” (mengakui kesalaha) menjadi pengingat untuk kembali ke fitrah setelah Idulfitri. Sementara tujuh gunungan melambangkan “pitulungan”, harapan akan pertolongan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyebut kegiatan ini sebagai wujud kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat. Tradisi yang baru kali kedua digelar ini diharapkan terus tumbuh menjadi identitas budaya sekaligus ruang mempererat ikatan sosial.
Di balik hiruk-pikuk perebutan kupat, terselip pesan sederhana: kebersamaan, harapan, dan doa untuk masa depan yang lebih baik. Sebuah tradisi yang tak hanya dirayakan, tetapi juga dirasakan maknanya oleh setiap orang yang hadir.

991 Hektare Sawah Terdampak Bencana Telah Direhabilitasi, 5.333 Hektare dalam Proses 