Catra Budaya

‘Mepe’ Jaran Kepang, Kehangatan Merawat Warisan yang Terus Dilestarikan

catrawarta.com — Di tengah tanah lapang Desa Ketitang, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah seniman kuda lumping dari berbagai penjuru kabupaten dan...

Seniman jaran kepang dari berbagai kabupaten berkumpul ‘mepe jaran’ di Desa Ketitang, Kecamatan Jumo, Temanggung. (Istimewa)

catrawarta.comDi tengah tanah lapang Desa Ketitang, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah seniman kuda lumping dari berbagai penjuru kabupaten dan sejumlah kabupaten tetangga menggelar tradisi ‘mepe‘ (menjemur) jaran kepang, Minggu (29/3/2026).

Di tempat itu, kuda-kuda lumping anyaman berjejer rapi. Warnanya terang mencolok, sehingga nampak jelas terlihat, bahkan dari kejauhan sekalipun. Beberapa di antaranya baru saja selesai menjalani ritual jamasan, yakni dimandikan penuh keseriusan. Setelah itu kuda-kuda kepang itu dijemur. “Setelah proses dimandikan kemudian dilanjutkan ‘mepe’,” begitu mereka  menyebutnya.

Tapi bukan sekadar menjemur properti. Ada sesuatu yang lebih dalam. Karena, konon ada jeda sakral, mendiamkan sebentar kuda lumping sebelum digunakan. Saat digunakan menari itu energi meledak lewat hentakan tari, tabuhan gamelan dan trance (ndadi), seperti terkena pengaruh makhluk lain, sehingga membuat bulu kuduk merinding. Dari sunyi menuju riuh. Dari tenang ke magis.

Di sela-sela mereka menjemur kuda kepang terkadang terdengar suara tawa dan obrolan hangat. Para seniman, komunitas, dan warga duduk tanpa sekat. Ada yang berteduh di bawah pohon seadanya, ada pula yang tetap tegak berdiri di bawah sengatan matahari, seolah panas tak menjadi masalah. “Ini bukan cuma untuk pelaku seni. Siapapun yang suka jaran kepang,  silakan datang,” ujar Supri Wanto, salah satu seniman yang ikut menggagas acara ini.

Ruang Bertemu atau Kopi Darat

Baginya, mepe jaran kepang lebih dari sekadar agenda rutin. Ini adalah ruang temu atau kopi daratnya budaya. Tempat di mana tradisi dirawat bersama-sama, bukan sendirian. Dari Temanggung, semangat ini mulai menjalar ke Magelang, Semarang, hingga Boyolali.
Hari itu, sekitar seribu orang hadir. Mereka datang dari Demak, Banjarnegara, Wonosobo dan berbagai penjuru lain. Jarak bukan halangan kalau yang dipanggil adalah rasa memiliki.

Seniman lain, yang ikut adalah Firman yang meski peluh bercucuran, kulit memerah terkena matahari, tapi langkahnya tetap ringan. Itu pertanda,  tradisi ini benar-benar hidup. Bukan di dalam ruangan ber-AC, bukan di atas panggung megah, tapi di tengah lapang, di bawah terik yang menyengat, bersama orang-orang yang memilih setia menjaganya tetap bernapas. “Di tengah panas mepe jaran kepang justru memberi satu kehangatan yang berbeda, yakni ada kebersamaan,” katanya

Ia mengatakan, menjadi sebuah pengingat, bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu. “Ini adalah pertemuan antara leluhur dan kita, antara kita dan anak cucu, antara kenangan dan harapan yang terus dijaga, dijemur di bawah terik matahari yang sama,” ucapnya penuh pesan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *