catrawarta.com — Budayawan Banyumas, Bambang Widodo, menilai pelestarian bahasa daerah kini menghadapi tantangan serius. Anak-anak dinilai semakin jauh dari bahasa ibu karena bahasa lokal tidak lagi digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Menurut Bambang, kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada bahasa Banyumasan, tetapi juga hampir seluruh bahasa daerah di Indonesia.
“Tantangan terbesar terhadap pelestarian bahasa Banyumasan juga berlaku untuk semua bahasa lokal. Ada dua faktor utama, yaitu bahasa lokal tidak lagi menjadi bahasa ibu dan tidak lagi menjadi bagian penting dalam pendidikan,” kata Bambang, Senin (8/6/2026).
Ia menjelaskan, dahulu anak-anak terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa daerah karena sejak taman kanak-kanak hingga kelas dua SD, bahasa lokal digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah.
“Dulu anak-anak berinteraksi menggunakan bahasa lokal karena ada aturan bahwa bahasa daerah menjadi bahasa pengantar di sekolah,” ujarnya.

Namun kini, bahasa daerah hanya menjadi bagian dari muatan lokal dan bukan mata pelajaran utama seperti pada era Orde Baru.
“Dulu bahasa daerah menjadi mata pelajaran sampai SMP. Anak-anak sekolah menjadi ujung tombak pelestarian bahasa daerah,” katanya.
Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa budaya nasional Indonesia merupakan sari pati dari nilai-nilai, karya dan tradisi terbaik yang bersebar di berbagai daerah, diakui dan dapat dinikmati oleh seluruh bangsa tanpa menghilangkan identitas lokal.
Menurut Bambang, saat bahasa daerah mulai ditinggalkan, kesenian tradisional juga ikut terdampak. Anak-anak kini tidak lagi memahami bahasa dalam pertunjukan ketoprak atau wayang.
“Dengan dipinggirkannya bahasa daerah, anak-anak akhirnya tidak tertarik lagi menonton kesenian tradisional,” ucap Purnatugas Dosen Fisip Unsoed Purwokerto itu.
Menurutnya, hilangnya bahasa daerah juga berdampak pada lunturnya tata krama dan adab dalam masyarakat. Ia mencontohkan ungkapan sopan seperti “nuwun sewu”, “kulo nuwun”, atau “nyuwun pangapunten” yang dahulu diucapkan dengan gestur tubuh membungkuk kini mulai jarang digunakan.
“Kesopanan itu bagian dari nilai budaya sekaligus nilai agama. Kalau bahasa daerah hilang, budaya-budaya lokal lain juga akan ikut hilang,” tegasnya.

Bambang mengatakan banyak anak muda Banyumas kini lebih memilih mempelajari bahasa asing karena dianggap lebih berguna untuk pendidikan dan pekerjaan. “Mereka merasa bahasa daerah tidak dinilai di sekolah, sedangkan bahasa Inggris dianggap penting untuk masa depan,” katanya.
Bali menjadi salah satu contoh daerah yang berhasil menjaga bahasa dan budaya lokal karena masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk penggunaan aksara Bali di ruang publik.
Bambang juga mengkritik wacana penguatan bahasa asing di sekolah tanpa diimbangi penguatan bahasa daerah. “Seharusnya negara juga memerintahkan anak-anak belajar bahasa daerah agar tidak kehilangan identitas budaya,” ujarnya.
Menurut Bambang, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Prancis, hingga China tetap bangga menggunakan bahasa nasional dan bahasa lokal mereka dalam kehidupan sehari-hari.
“Di sini justru bahasa daerah dianggap ndeso. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bahasa lokal bisa hilang dan memusnahkan kebudayaan daerah lainnya,” katanya.
Ia menilai pelestarian bahasa daerah masih bisa dilakukan, salah satunya dengan mengembalikan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar bagi anak-anak sejak TK hingga kelas dua SD. Selain itu, bahasa daerah juga perlu kembali dijadikan mata pelajaran hingga tingkat SMP agar anak-anak serius mempelajarinya.
Di era digital, Bambang mendorong dokumentasi bahasa daerah melalui video, animasi, dan komik digital yang disebarkan melalui media sosial agar lebih mudah diterima generasi muda. “Saya yakin bahasa daerah bisa dipulihkan jika ada keseriusan dan dukungan dari pendidikan maupun media digital,” pungkasnya.

