catrawarta.com — Gaya hidup sehat semakin populer di kalangan pekerja urban, mulai dari diet viral hingga berbagai workout challenge. Namun di balik tren tersebut, risiko kesehatan justru terus meningkat. Fenomena ini diperparah dengan maraknya infodemic atau penyebaran informasi yang berlebihan, termasuk informasi yang salah atau menyesatkan, baik di dunia digital maupun lingkungan fisik yang terjadi selama terjadinya wabah penyakit.
Sejalan dengan perkembangan dunia digital dan sosial media yang saat ini makin mendominasi kehidupan masyarakat, penyebaran informasi kesehatan yang tidak akurat ini juga menjadi satu hal yang patut dicermati, sebagaimana disoroti World Health Organization. Akibatnya, banyak masyarakat, terutama pekerja dengan mobilitas tinggi terjebak pada tren kesehatan instan yang tidak berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, dalam momentum World Health Day bertema “Together for Health, Stand with Science”, Allianz Indonesia menghadirkan inisiatif wellbeing untuk mendorong gaya hidup sehat yang lebih realistis dan berbasis bukti.
“Di tengah rutinitas kerja yang padat, kesehatan sering jadi prioritas terakhir atau baru dipikirkan ketika ada tren. Kami ingin menggeser cara pandang itu, bahwa hidup sehat bukan sesuatu yang menunggu waktu luang, tapi harus dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Ini bukan soal tren sementara, tapi investasi jangka panjang,” ujar Nina Hatumena, Chief People & Culture Allianz Life Indonesia dalam keterangan persnya, Rabu (8/4/2026).
Inisiatif ini menghadirkan Melanie Putria, Public Figure, Runner dan Wellness Enthusiast serta Rinta Agustiani Dwiputra SGz MM, Nutritionist & Health Expert Itsbuah.
Kesalahpahaman Umum Soal Aktivitas Fisik
Melanie menyoroti kesalahpahaman umum terkait aktivitas fisik sehari-hari. “Banyak orang merasa sudah cukup aktif karena aktivitas harian seperti beres-beres rumah atau berjalan saat menggunakan transportasi umum. Padahal itu termasuk Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yaitu aktivitas fisik non-olahraga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, aktivitas seperti berjalan ke stasiun, berdiri di KRL atau naik tangga memang bermanfaat bagi tubuh, namun belum dapat menggantikan olahraga yang terstruktur dan terukur. Ia juga menekankan empat pilar utama gaya hidup sehat, yaitu olahraga, nutrisi, istirahat & recovery serta manajemen stres.
Sementara itu, Rinta menekankan, tantangan terbesar dalam menerapkan gaya hidup sehat saat ini bukan pada kurangnya informasi, melainkan kesalahan dalam memahami dan memilih informasi yang tepat. “Banyak orang ingin hidup sehat, tapi terjebak pada tren atau solusi instan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Akibatnya, hasilnya tidak bertahan lama, bahkan bisa berdampak sebaliknya,” jelasnya.
Ia mencontohkan fenomena yang sering terjadi saat seseorang mengikuti tren diet tanpa pemahaman tepat yang dapat mengganggu metabolisme tubuh, seperti efek yoyo, yaitu kondisi ketika berat badan turun drastis dalam waktu singkat, namun kembali naik dengan cepat, bahkan bisa lebih tinggi dari sebelumnya.
Memilah Berbagai Pola Hidup Sehat
Berangkat dari kondisi tersebut, sesi “Trend vs Truth” dihadirkan untuk membantu peserta memilah berbagai pola hidup sehat yang populer serta memahami mana yang benar-benar bermanfaat dan mana yang berisiko jika dilakukan tanpa pendampingan yang tepat. Beberapa poin yang dibahas antara lain:
• Very low-calorie diet: Dapat menurunkan berat badan secara cepat, namun sebagian besar yang hilang adalah massa otot dan cairan, bukan lemak. Kondisi ini berisiko memicu efek yoyo karena metabolisme melambat.
• Keto diet: Efektif dalam kondisi tertentu, namun jika dilakukan dengan konsumsi lemak jenuh berlebih tanpa pengawasan, dapat meningkatkan risiko gangguan jantung dan membebani fungsi ginjal.
• Intermittent fasting: Dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengatur pola makan, selama asupan nutrisi tetap seimbang.
• Juice fasting: Dapat membantu memberi “istirahat” pada sistem pencernaan dan meningkatkan asupan mikronutrien, namun perlu dilakukan dengan durasi dan komposisi yang tepat agar tetap aman.
Sebagai tindak lanjut, Rinta juga menegaskan bahwa pendekatan sederhana justru lebih efektif untuk pekerja urban, selama dilakukan secara konsisten. Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain:
• Pola makan seimbang: Mengatur porsi karbohidrat, protein, serat, dan lemak sehat dalam satu piring, serta mengurangi makanan ultra-proses tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.
• Aktivitas fisik rutin: Kombinasi cardio dan latihan beban secara berkala.
• Tidur berkualitas: Menjaga durasi tidur, konsistensi waktu, serta membatasi screen time sebelum tidur.
• Micro-break setiap 90 menit: Untuk stretching ringan atau berjalan sejenak.
• Power nap 15–20 menit: Membantu memulihkan fokus dan energi di tengah hari kerja.
Lebih jauh, pendekatan kesehatan berbasis sains tidak hanya berhenti pada pola hidup, tetapi juga mencakup upaya pencegahan yang telah terbukti efektif secara global, salah satunya melalui imunisasi. Data World Health Organization menunjukkan bahwa 154 juta nyawa telah terselamatkan melalui imunisasi, atau setara dengan 6 nyawa setiap menit selama 50 tahun terakhir.
Hal ini menegaskan, di tengah derasnya tren kesehatan, intervensi berbasis bukti tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan masyarakat, termasuk bagi mereka yang berada di usia produktif.
Di tengah dunia kerja yang serba cepat, tren boleh datang dan pergi, namun kesehatan hanya bisa dibangun melalui langkah yang konsisten, realistis, dan berbasis sains.

Salah Pilih Jurusan Jadi Persoalan, Orangtua Jangan Paksakan Kehendak 