Warta

Kolaborasi Ritel Modern dan UMKM Lokal untuk Menggerakkan Ekonomi Wonosobo

catrawarta.com — Di tengah lanskap pegunungan Wonosobo yang terus berkembang, sebuah langkah baru dalam penguatan ekonomi lokal resmi dimulai. Rabu (17/3/2026), gerai...

Grand opening Alfamidi Kalikajar Wonosobo dengan pemotongan pita oleh owner Ray Alden Sanjaya. Foto : Muharno Zarka

catrawarta.comDi tengah lanskap pegunungan Wonosobo yang terus berkembang, sebuah langkah baru dalam penguatan ekonomi lokal resmi dimulai. Rabu (17/3/2026), gerai Alfamidi Kalikajar diluncurkan, bukan sekadar sebagai toko modern, tetapi sebagai ruang kolaborasi antara ritel, generasi muda, dan pelaku UMKM setempat.

Berdiri di jalur strategis Kertek–Kalikajar, tepatnya di sekitar pertigaan Priangapus, Maduretno, kehadiran Alfamidi Kalikajar langsung menarik perhatian. Akses yang mudah menjadikannya berpotensi menjadi simpul aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Peresmian ini diprakarsai oleh Triana Widodo, owner PT Cebong Imelindo Grup, yang akrab disapa Mas Wiwied. Sejumlah tokoh turut hadir, mulai dari kalangan perbankan, TNI, hingga pemerintah kecamatan—menandakan bahwa kehadiran ritel modern ini bukan sekadar ekspansi bisnis, tetapi bagian dari dinamika pembangunan daerah.

Bagi Mas Wiwied, Alfamidi Kalikajar bukan hanya soal perdagangan, melainkan investasi masa depan. Menariknya, pengelolaan usaha ini dipercayakan kepada generasi muda dalam keluarganya.

Putranya, Nail Beryl Sanjaya yang masih menempuh pendidikan di SMA Al-Azhar Yogyakarta, bersama kakaknya Ray Alden Sanjaya yang tengah berkuliah di Singapura Institute of Management (SIM), akan menjadi motor penggerak usaha ini. Kolaborasi keduanya diharapkan mampu menghadirkan energi baru dalam pengelolaan bisnis ritel yang adaptif terhadap zaman.

Tidak berhenti di situ, konsep pengembangan juga telah dirancang lebih luas. Di lantai atas bangunan, akan dibangun area wisata kuliner yang menyasar kalangan milenial. Ruang ini dirancang bukan hanya sebagai tempat makan, tetapi juga sebagai titik temu, diskusi, hingga ruang tumbuhnya ide-ide bisnis anak muda Wonosobo.

Dimensi Pemberdayaan

Di balik konsep modern yang diusung, terdapat komitmen kuat terhadap pemberdayaan lokal. Ray Alden Sanjaya menegaskan bahwa operasional toko akan memprioritaskan tenaga kerja dari warga sekitar.

Lebih dari itu, rak-rak produk di dalam toko tidak hanya diisi oleh barang pabrikan, tetapi juga produk-produk UMKM khas Wonosobo. Langkah ini menjadi jembatan penting agar pelaku usaha kecil dapat masuk ke dalam rantai distribusi ritel modern.

“Kami ingin kehadiran Alfamidi ini benar-benar memberi manfaat langsung bagi masyarakat, baik dari sisi lapangan kerja maupun pemasaran produk lokal,” ujarnya.

Perwakilan Alfamidi, Fajar Kurniawan, juga menegaskan bahwa model kemitraan yang diterapkan memungkinkan pengelolaan yang mandiri, sekaligus tetap terhubung dengan sistem ritel modern yang lebih luas.

Perspektif Lokal

Namun demikian, kehadiran ritel modern tidak pernah lepas dari dinamika. Camat Kalikajar, Aldhiana Kusumawati, mengakui adanya kekhawatiran dari pelaku usaha tradisional.

Di satu sisi, masyarakat mendapatkan kemudahan akses belanja. Namun di sisi lain, muncul potensi persaingan yang tidak ringan bagi pedagang kecil.

Meski begitu, komitmen pihak pengelola untuk melibatkan masyarakat lokal menjadi titik harapan. Perekrutan tenaga kerja setempat dan penyediaan ruang bagi produk UMKM dinilai sebagai langkah konkret untuk menjaga keseimbangan ekonomi.

Bahkan, rencana pengembangan lantai dua sebagai ruang kuliner dan aktivitas publik membuka peluang baru bagi interaksi sosial dan ekonomi masyarakat.

Alfamidi Kalikajar hadir sebagai sebuah eksperimen sosial-ekonomi: mempertemukan ritel modern dengan kearifan lokal. Keberhasilannya kelak tidak hanya diukur dari jumlah transaksi, tetapi dari seberapa besar ia mampu mengangkat pelaku UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

Pada akhirnya, seperti disampaikan Camat Kalikajar, masa depan kolaborasi ini akan sangat ditentukan oleh implementasi di lapangan—apakah benar-benar inklusif, atau sekadar wacana. Di Kalikajar, harapan itu kini telah dimulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *