Warta

Menghadirkan Masjid Tempat Singgah yang Aman dan Nyaman

catrawarta.com — Para pemudik Idul Fitri tahun ini tak perlu khawatir bakal telantar di jalan saat terjadi kemacetan lalulintas atau kendaraan yang...

Wakil Menag Romo Syafii, saat Kick Off Program Masjid Ramah Pemudik Idulfitri 1447 H (Humas Kemenag RI)

catrawarta.comPara pemudik Idul Fitri tahun ini tak perlu khawatir bakal telantar di jalan saat terjadi kemacetan lalulintas atau kendaraan yang mereka tumpangi ada masalah. Sebab, saat ini selain terdapat tempat-tempat peristirahatan di rest area, juga bisa berhenti atau beristirahat di masjid-masjid. Langkah penyediaan masjid untuk pemudik ini baru saja diluncurkan Kementerian Agama (Kemenag) .

Kick Off Program Masjid Ramah Pemudik Idulfitri 1447 H dan Ekspedisi Masjid Indonesia (EMI) 2026 ini digagas Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Upaya ini menjadi bagian dari menghadirkan layanan singgah yang aman dan nyaman bagi masyarakat selama periode mudik Lebaran.

Melalui program tersebut, Kemenag menyiapkan 6.859 masjid di seluruh Indonesia sebagai tempat singgah gratis bagi para pemudik. Masjid-masjid yang terlibat akan memberikan layanan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan jauh, khususnya pada arus mudik dan arus balik Idul Fitri.

Wakil Menteri Agama, Romo Syafii, dalam sambutannya menegaskan, masjid memiliki fungsi pelayanan sosial yang harus dirasakan langsung masyarakat. Ia menyampaikan, pemerintah mendorong agar masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas,

“Masjid memang tempat melayani. Kita ingin mengubah wajah masjid yang selama ini terkesan hanya dibuka untuk salat lima waktu. Sekarang masjid diprogram sesuai fungsinya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Romo Syafii.

Hidupkan Peran Masjid

Menurutnya, program Masjid Ramah Pemudik merupakan langkah untuk menghidupkan kembali peran masjid sebagai pusat pelayanan umat. Keterlibatan ribuan masjid di seluruh Indonesia menunjukkan kesiapan masyarakat dalam mendukung kelancaran perjalanan pemudik.

Dalam program ini, masjid yang terlibat akan membuka akses selama 24 jam dan menyediakan berbagai fasilitas bagi pemudik. Layanan yang disiapkan antara lain area istirahat, tempat ibadah, fasilitas toilet yang bersih, air bersih, serta pengamanan di lingkungan masjid dan area parkir.

Selain itu, tersedia pula ruang layanan kesehatan, fasilitas pengisian daya telepon seluler, pusat informasi perjalanan, serta penyediaan air minum dan makanan ringan. Fasilitas tersebut diharapkan membantu pemudik yang membutuhkan tempat beristirahat selama perjalanan jarak jauh.

Rumah Ibadah Lain

Romo Syafii juga menyampaikan, semangat pelayanan kepada pemudik tidak hanya dilakukan oleh masjid, tetapi juga didukung rumah ibadah lain di Indonesia. Ia mengatakan, berdasarkan koordinasi lintas lembaga, sejumlah gereja, vihara, klenteng, dan pura turut membuka ruang bagi masyarakat yang membutuhkan tempat beristirahat selama perjalanan.

“Kerukunan yang menjadi ikon persatuan Indonesia hari ini tergambar dengan sangat indah lewat pelayanan rumah-rumah ibadah bagi para pemudik,” katanya.

Secara analitis, kebijakan ini dapat dibaca sebagai strategi preventif berbasis komunitas. Pemerintah tidak semata mengandalkan rest area formal di jalan tol, tetapi memperluas jaringan titik istirahat melalui infrastruktur sosial-keagamaan yang telah tersebar hingga pelosok desa.

Model ini relatif efisien karena tidak memerlukan pembangunan infrastruktur baru, melainkan optimalisasi fasilitas yang sudah ada. Selain itu, masjid secara kultural memiliki legitimasi sosial yang kuat, sehingga pemudik cenderung merasa lebih aman dan nyaman untuk singgah.

Bagi pemudik yang masih menjalankan puasa Ramadan, pengelola masjid diimbau menyediakan takjil saat berbuka serta minuman hangat pada malam hari. Ini menunjukkan pendekatan yang tidak hanya teknokratis, tetapi juga humanis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *